heart

Tentangmu – Dsy

Jika hingga detik ini aku masih terpaku padamu, yakinlah itu bukan hal yang aku inginkan. Percayalah, jika tahu sesulit ini, takkan pernah kubiarkan hatiku mengarah padamu. Ingatkah bahwa sejak detik pertama pertemuan kita, aku tak pernah mengundangmu untuk hadir atau berkunjung ke dalam hidupku.
Mungkin juga kau begitu, tidak pernah benar-benar menuju aku, hanya mungkin kau kebetulan singgah, entah sejenak lalu pergi, entah untuk tinggal, entahlah.

Saat itu, aku menerima kedatanganmu hanya sebagai teman, yang memang seharusnya menyambut baik kedatanganmu. Tak pernah aku berpikir bahwa kau akan meninggalkan jejak dihatiku.
Kemudian kau datang dan pergi berkali-kali, seperti aku yang tak pernah mengundangmu untuk datang, maka aku juga tak pernah menahanmu saat kau beranjak pergi. Berkali-kali cerita ini kita lalui, tanpa merasa ada yang meninggalkan atau ditinggalkan.

Hingga puluhan purnama lalu, kau kembali datang untuk kesekian kalinya, masih tanpa kuminta, masih dengan cara yang sama, tetapi tanpa kau atau aku sadari, kita melaluinya dengan rasa yang berbeda. Jika sebelumnya kau hanya singgah, saat itu kau menjejakkan kaki sedikit dalam, sehingga jejakmu terekam cukup jelas.
Entah aku yang menyisihkan tempat yang terlalu lembek untuk kau pijaki, entah kau melangkah terlalu keras, entah memang keadaan yang menghendaki perubahan ini.

Kemudian kepergianmu menjadi begitu berat, bahkan untuk dibayangkan. Namun akhirnya hal itu terjadi juga tanpa bisa kucegah. Kuakui saat itu pertama kalinya aku merasa terlalu sulit melepasmu. Tak ingin menahan, hanya tak mampu merelakan. Rasanya air matapun tak mampu menahanmu, menahan egomu tepatnya. Berat rasanya hari-hari selanjutnya, berusaha dan mencoba membiasakan tanpa kehadiranmu.

Berat memang, berbulan–bulan aku masih menunggumu kembali, bahkan untuk sekedar pamit, jika kau benar-benar ingin pergi. Berharap kau sudi datang, mungkin cuma untuk menghapus jejak yang terlanjur kau tinggalkan.
Kemudian kusadari semua sia-sia, karena tak mungkin mengharapkanmu menoleh sedikit padaku, apalagi untuk berbalik arah kembali padaku.

Sampai kemudian dengan terseok aku mencoba sendiri menghapus jejakmu. Meski tak benar-benar menghilang, mungkin bisa sedikit memudarkannya, untuk kemudian waktu yang akan menganggapnya tiada.
Kemudian sebuah kedatangan lain mengambil alih tempat yang kau tinggalkan, cukup untuk membuat jejakmu menjadi tak terlalu membekas meski masih ada.

Namun seperti berkali-kali dulu, kau tiba-tiba kembali, masih tanpa aku undang bahkan tanpa aku duga sama sekali, dan mungkin setiap kedatanganmu akan selalu begitu, seperti juga kepergianmu yang tak pernah kuduga dan tak mampu kucegah.
Rasanya kau seperti angin, datang tiba-tiba, dari arah yang tak bisa kuduga, dan pergi juga tiba-tiba, kearah yang juga tak kutahu. Kau bisa bertiup begitu lembut, sepoi-sepoi melenakan, tapi kau juga bisa sekuat badai, yang mampu merusak apa yang sudah tertata rapi.

Aku menebak, mungkin kau tak pernah sadar bahwa kau meninggalkan jejak, apalagi cukup dalam, atau kau mungkin juga menyadari, tapi tak kuasa menahan kakimu, untuk berpijak, untuk kemudian beranjak.
Maka saat kau kembali, kau mengulang segalanya. Mengulang semua yang pernah kita lalui. Bodohnya aku masih meluangkan tempat yang sama untukmu. Kau mungkin tak pernah menyadari, kau bahkan menjejakkan kaki lebih dalam. Kau masuk terlalu jauh, melebihi tempat yang pernah kau singgahi dulu.

Maka biarpun jejakmu menapak lebih dalam, namun aku sekarang lebih siap. Siap untuk menerimamu kapanpun kau datang lagi. Juga siap untuk melepasmu kapanpun kau ingin pergi.
Mungkin akan begitu seterusnya, hingga di batas hatiku merasa jenuh dengan semua teka-teki yang kau buat.
Entah bagian mana yang akan menjadi penutup cerita ini.
Hanya saja, seperti pernah kukatakan, aku selalu siap melepasmu pergi, entah menuju tujuanmu yang lain, atau untuk beranjak dan kembali padaku.

Kadang aku ingin membisikkan kata padamu, memohon tepatnya, agar saat kau datang, semoga kau tidak menapaki tempat yang sama yang pernah kau tapaki. Karena itu berarti, kau memperdalam jejakmu. Jejak yang mungkin takkan mampu lagi kuhapus, atau kusamarkan, atau kuanggap tak ada, meski ada kaki lain yang mulai menjejakkan kakinya.
Untukmu, angin yang pernah bertiup disampingku..

Yakinlah, bahwa terkadang, yang kau dengar bukanlah yang sebenarnya kukatakan, bahwa aku, setiap denganmu, selalu meracau, mengatakan apa yang tak akan kukatakan, tapi tak menyampaikan apa yang ingin kusampaikan..
Percayalah, bahwa jika kau mendengar dengan hati, semua yang kau tangkap, mungkin hanya kalimat-kalimat tambahan yang kuucap untuk menyamarkan maksudku..

Untukmu, angin yang bertiup entah kemana..
Untukmu, angin yang kadang membuatku bernafas lega, tapi juga bisa menyesakkan rongga dadaku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s