days, heart

Komitmen – Dsy

Komitmen kadang menjadi sesuatu yang menyiksa juga, apalagi kalau dibuat terlalu keras dan dijalani terlalu keras. Ini masih tentang dia, yang aku pikir sudah benar-benar pergi, tapi dia tetap saja datang lagi, mengusik lagi, lalu pergi lagi.

Jadi ingat dulu, ketika aku membuat sebuah komitmen yang sulit sekali untuk dijalani, tapi aku bertekad, sesulit apapun, aku harus menjalani apa yang sudah aku katakan.
Dulu pernah, aku merasa seperti melukai diriku sendiri, ketika aku memberi komitmen yang terlalu keras pada diri sendiri. Hampir saja aku melanggarnya, namun aku berpikir, kenapa hanya karena satu masalah aku mengorbankan komitmenku.

Salah satu komitmen paling keras yang aku buat adalah 10 tahun yang lalu, ketika aku mulai menyukai seseorang. Aku menyimpan keyakinan, bahwa sedalam apapun perasaan suka pada seseorang, aku tidak akan pernah mengungkapkan pada orang itu. Mungkin aku hanya akan menceritakannya pada orang yang benar-benar aku percaya. Sedikit berhasil, karena sampai pertemuan terakhir kami, aku bisa memendam apa yang aku rasakan. Tapi ternyata setelah itu sangat berat, karena aku sadar tidak punya kesempatan lagi, untuk melihatnyapun hampir tidak mungkin.

Butuh waktu lama hingga aku terpulihkan dan mulai membuka mata dan hati lagi. Kejadian berulang dan aku masih tetap memegang komitmen ini. Hingga akhirnya aku menemukan orang yang membuatku tidak tersiksa dengan komitmenku.

Tapi kemudian kebiasaan membuat komitmen mengganggu lagi. Aku membuat komitmen lagi, untuk bisa menahan diri dan hati, untuk tidak terlalu menunjukkan apa yang aku rasakan, pada orang yang aku sayang sekalipun. Mungkin terkesan berpura-pura dan menutupi, tapi aku melakukannya demi kebaikan sendiri, daripada aku terlalu terbuka dan pada ujungnya kecewa. Saat apa yang aku khawatirkan terjadi, aku memang kecewa, tapi setidaknya, komitmen itu sedikit menyelamatkanku.

Kemudian, setelah bertahun, aku tersentak lagi karena keadaan. Keadaan yang membuat aku tersiksa lagi karena komitmen itu. Dan sekarang, aku sudah bukan anak kecil lagi. Jika yang dulu kuhadapi adalah perasaan anak remaja, sekarang mungkin berbeda. Komitmen ini semakin menyiksa, ketika orang yang kuhadapi benar-benar menyiksa. Orang yang suka datang dan pergi semaunya. Orang yang datang dengan cara yang unik. Orang yang awalnya menjadi teman, kemudian memberi kesan sedikit dalam. Orang ini benar-benar aneh, mampu membuat tertawa, tapi ketika pergi dia membuatku menangis.

Kembali, komitmen ini menahanku untuk berbuat banyak.

Berbulan lalu, tekadku untuk tidak menunjukkan perasaan dan cukup menyiksa. Kemudian semakin terasa ketika dia pergi. Sejenak kehilangan itu teralihkan ketika di Italy, karena seperti menemukan teman dan romantika yang menarik. Ketika aku disana sebenarnya dia juga muncul, tetapi kucoba tidak peduli, atau tidak menunjukkan perasaanku, karena aku takut berharap banyak. Jadi tidak salah jika akhirnya dia pergi lagi.

Siapa yang sangka dia masih saja datang kembali dan mengusik lagi. Awalnya hanya pertanyaan biasa, seperti biasa, kemudian datang dan pergi lagi, berulang-ulang. Konyol memang, menjadi dekat dengan seseorang, tetap berpura-pura nyaman dengan hanya menjadi temannya, dan menyiksa hati dengan menahan perasaan padanya. Sementara dia, entah apa yang dia rasakan, tidak ada yang benar-benar tahu. Hanya aku yang kadang dengan Ge-eRnya menebak dan mereka-reka arti kembalinya dia dan bentuk hubungan yang kami jalani, mungkin begini, mungkin begitu, mungkin akhirnya begini, atau begitu, entahlah.

Sampai kemudian dia menghilang lagi. Mungkin aku yang salah karena tak mampu mempertahankannya tetap dekat denganku. Seperti juga pernah terjadi sebelumnya. Tetap konyol, karena seperti komitmenku sejak awal, aku tidak akan menghubunginya, tidak akan bertanya padanya, kecuali dia yang menghubungiku, atau bertanya padaku. Mungkin ini yang namanya ego, bukan konsistensi menjalani komitmen, tapi lebih pada ego untuk merasa dikalahkan.

Sekarang, dia masih menghilang. Sudah beberapa minggu, dia masih tak muncul. Awalnya aku berharap dia hanya sedang sibuk, tapi aku kemudian menemukan, bahwa sekarang dia menjauh lagi. Entah sampai kapan, entah untuk selamanya, entah untuk kembali lagi. Sementara ini, biar ego ini menahanku untuk tidak mencarinya, walau kadang, aku secara diam-diam mencari tahu tentangnya, yang akhirnya hanya membuat aku semakin tersiksa.

Sekarang, biarlah aku coba bertahan. Karena sekarang, meskipun dia penting, ada yang lebih penting yang harus kujalani. Biarlah aku menemukannya lagi, atau dia menemukanku, ketika semua sudah tuntas kujalani, sehingga aku benar-benar bisa memfokuskan hatiku padanya, atau pada komitmenku.

SO Keep on Praying, Struggling, and Wishing Deasy!!! ^o^

I will keep fighting, because I know that I’m just NOBODY..
(but people said, NOBODY is perfect, SO? ^o^ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s