friends

Curcol – Dsy

Senin 13 Februari 2012

Saya seperti biasa, bangun agak telat, ya kira-kira jam 9 lah, dan seperti biasa, saya putuskan mengecek email dan pesan-pesan dulu, sebelum selanjutnya mandi masak dan siap-siap ke kampus, kebetulan minggu ini adalah hari-hari tersibuk saya walaupun sudah dinyatakan sebagai libur semester.

Tapi hari ini semangat dan mood saya dihempaskan mendadak, begitu melihat inbox di akun saya, saya jadi amat sangat terkejut.

Alasannya? Ya sederhana saja, tiba2 saja inbox saya mendapat sapaan dari orang yang saya g kenal, dia memakai nama samaran yang sedikit keJepang-jepangan, kita sebut saja cewek ini Y, baiklah saya tulis saja pesannya disini, gapapalah saya buka sedikit rahasia ini, abisnya saya geli kalo cerita ini saya simpan sendiri, hehe..

“Hey,,, Anda yang teman X (nama akun facebook sahabat saya) yg sekolah ke jepang itukan ? Bukannya Anda dan Saya dulunya berteman dlm FB…?? Tpi skrg knp tdk lg ya ? Anda yang tau jwbannya… Saya g sengaja baca2 obrolan Anda dngn X di FB,,,dr sekian bnyk ada 1 kata yg mengganjal dihati Saya,,, ” Masih jalan samo INYO kan ?” ( Kalau Anda lupa, Anda baca lg obrolan Anda dngn X) Kalau Saya boleh usul, sungguh sangat tidak sopannya org yg menulis INYO,,, pdhal si INYO ini punya nama dan sangat kebetulan yg si INYO ini adalah Saya….,,,,ya… semuanya kembali pada akhlak masing2 orang,,.. OK itu saja yang Saya kurang suka mendengarnya yang lain Saya tidak peduli..”

Ya begitulah, singkat, jelas dan padat. Intinya ya saya didamprat orang subuh2, jika kata damprat terlalu negatif, bolehlah saya katakan, saya mendapat teguran di suatu subuh yang harusnya damai (dan siapapun yang kenal saya pasti tau saya paling tidak suka pagi hari saya dirusak, apalagi senin pagi, ya mungkin karena si Y ini tidak kenal saya) dan pasti saya kaget. Dan saya didamprat dengan alasan yang super g penting menurut saya, dan obrolan itu sendiri sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya, which is sooo yesterday untuk tiba-tiba dijadikan issue utama disubuh yang indah ini, udah pasti orang yg begini lagi korslet kepalanya tengah malam, trus iseng-iseng buka akun FB pacarnya trus nyari-nyari siapa kira-kira yang bisa dia jadikan sasaran menumpahkan kesalnya yang terjadi entah karena apa. Dan saya tentunya sangat kaget dengan semua fenomena aneh di pagi buta ini.

Pertama, saya kaget karena disapa begitu, dalam kepala saya, harusnya pesan ini dimulai dengan “Hei ini Deasy Arisa ya? (g usah kali ya disebut2 yang di jepang -__-). Kenalkan nama saya Y, saya pacarnya sahabat kamu si X, kebetulan saya kemaren liat-liat obrolan kalian di akun pacar saya, bla… bla… bla…” Karena dia itu pacarnya sahabat saya, yg juga belum kenal saya, ya bisa dong ya santun dulu, walaupun ujung-ujungnya juga bakal mendamprat, setidaknya saya akan merasa didamprat oleh seseorang yang ‘pantas’, hehe.

Kedua, saya kaget karena si Y ini baca-baca obrolan saya dengan sahabat saya, which is, menurut saya itu privacy saya, dan tentunya, bahkan ibu atau suami anda juga tidak boleh seleluasa itu untuk membuka pesan2 dan akun pribadi anda, tapi ya gimana lagi, ternyata sahabat saya ini sudah begitu percaya membagi semuanya pada kekasihnya, termasuk akun FB nya, dan tentu, termasuk semua privacy didalamnya.

Ketiga, saya kaget kenapa saya dipersalahkan dengan menyebutnya sebagai INYO, karena jika diperhatikan obrolan saya sepenuhnya, kata2 itu sama sekali tidak salah, INYO dalam bahasa Minangkabau berarti DIA, dan saya rasa itu wajar. Justru saya mempertanyakan sensitifitas si Y ini yang tiba-tiba meledak di tengah malam. Malah salah satu sahabat saya yang lain kadang menyebut ‘si A’ dengan PAJA yang malah berkonotasi negatif dalam bahasa kami, tapi ya kembali pada kita, seberapa biasa kita menggunakan kata2 tersebut dalam obrolan sehari2, atau teman saya yang lain saling memanggil Nadhari pada sahabatnya, yang dalam bahasa mereka, artinya amat sangat kasar sekali. G mungkin saya menulis begini, “Masih sama Y kan?” karena saya juga sudah lupa namanya, dan kebetulan teman saya ini mengobrol dengan saya justru menceritakan kegalauannya tentang masa depannya dengan cewek ini, ya saya merasa saat itu obrolan kami hanya curhatan biasa, hanya sebuah obrolan lain diantara jutaan obrolan yang kami miliki selama 10 tahun bersahabat, mungkin baik kiranya saya tuliskan juga potongan obrolan saya dengan teman saya itu :

Dsy : X, lah hampir yo? katonyo dulu maret? Hehe (X, udah hampir ya? Katanya dulu maret? hehe)
kabari yo (kabari ya )
X : masih lun jaleh lai deasy (masih belum jelas Deasy)
banyk halngan n rintangan
bantuaknyo mambujang sampai tuo (sepertinya membujang sampai tua)
Dsy : what’s up emang?
X : hiks hiks hiks
Dsy : jan lah mode tu (jangan seperti itu)
X : jadi klo deasy k Indo lagi
bawa oleh2nya orang jepang aja
yg cantik
Dsy : masih jalan samo inyo kan? (masih jalan sama dia kan?)
X : yang caem
baa???? (gimana?)
Dsy : haha
X : *sensor*
Dsy : masih ndak samo yang kini? (masih sama yang sekarang g?)
X : lai bisa menurut deasy kiro tu???? (bisa g tuh kira2 menurut deasy?)

Mengingat obrolan itu, dan melihat bentuk pesan yang saya terima pagi itu, saya benar-benar jadi galau waktu itu, karena saya memang rajin galau dan rentan galau, haha.
Saya berpikir, ini bagusnya pesan diapain ya? Saya jawab dengan baik? Atau saya balas damprat? Atau saya forward ke pacarnya? Atau saya cuekkan saja?

Perjalanan saya ke kampus senin itu sungguh buruk, walaupun saya ingin melupakan saja, dan jadi dewasa secara benar dengan tidak mempedulikan gangguan ini, tapi kog ya otak saya g bisa dipakai mikir yang lain, yang mondar mandir di kepala saya cuma berbagai alternatif reaksi yang mungkin saya tunjukkan pada si Y ini.
Dan dalam keadaan galau, otak galau saya mulai berpikir banyak kemungkinan,

Satu, jika saya balas dengan baik, hati saya kog ya g puas, karena saya kesannya pura-pura baik dan pura-pura kalem, padahal seharian itu otak saya jadi ngadat dan tugas-tugas saya terlantar gara-gara kekonyolan ini.

Kedua, jika saya balas dengan jutek, apa saya g sama dengan dia, lha masa tindakan sekekanak-kanakan itu saya tanggapi dengan lebih kanak-kanak lagi, naluri saya sebagai wanita dewasa nan bijaksana tentu menolak opsi ini

Ketiga, saya sempat berpikir untuk meneruskan pesan ini pada sahabat saya si X, dengan harapan dia bisa menenangkan kekasihnya. Tapi saya malah takut dikira tukang ngadu, dan saya jadi galau deh. Lebih parah klo dia marah-marahin pacarnya, bisa-bisa si Y ini malah tambah emosi sama saya dan bikin dampratan sesi kedua, atau, parah juga klo ternyata dia memihak pacarnya, kasian saya dong, haha.

Keempat, klo saya g balas, kog saya takutnya dia merasa menang dan merasa sudah benar mendamprat saya, dan merasa bahwa tudingannya benar.

Dan saya resmi menjadi ratu galau hari itu, dan di tengah kegalauan, saya memutuskan untuk curhat dan mencari pencerahan pada pihak ketiga, yang saya harapkan bisa membantu saya tidur nyenyak malam ini dengan melakukan hal terbaik yang harus saya lakukan.

Dan ini saran sahabat saya : balaslah dengan cara baik tanpa mengurangi sopan santun, dan tunjukkan padanya, bahwa kamu bukan orang yang tepat untuk disasar dampratan itu.

Sungguh sahabat yang baik, terkadang menjadi partner in crime saya, dan dia menggiring saya pada level baru, keluar dari area galau dan membuat saya merasa harus membalas tanpa terlihat membalas, harus menjawab yang membuat si Y ini sadar bahwa dia salah orang dengan mendamprat saya, dan jadilah draft balasan itu sebagai berikut (yang saya edit berulang kali agar tidak salah makna, tidak dianggap kasar, tapi juga tidak dianggap tidak cukup ‘melawan’, hehe)
“Assalamu’alaikum, selamat malam, maaf saya telat membalas, maklum sedikit sibuk. Tentang nama anda, ah ya, salah saya… karena tidak pernah bisa hapal hal2 yg menurut saya tidak penting, mungkin termasuk nama anda, maaf jika kurang berkenan. Dan jika kelemahan saya ini bisa dihubungkan juga dg akhlak..baiklah, maafkanlah akhlak saya yg TERCELA itu

Dan tentang FB anda, daripada dipertanyakan, ya saya jawab saja, waktu itu kebetulan saya menghapus akun2 tidak penting, mungkin termasuk akun anda, jika itu juga kurang berkenan untuk anda, saya minta maaf dengan segala kerendahan hati dan klo tidak salah, saya dulu hanya approve krn teman saya yang minta kog, maaf ya

Tapi satu hal sih, anda tidak berhak menghakimi saya, termasuk mengatur apa yg boleh dan tidak boleh saya ucapkan dg sahabat saya di ruang PRIBADI kami. Saya tidak peduli sih message saya yg secara TIDAK SENGAJA anda baca. Saya tidak punya komentar deh

Well, saya tidak mengenal anda, dan saya juga tidak berani menghakimi anda dg asumsi-asumsi saya yg takutnya bukan sesuatu yg bisa anda pahami. Jadi saya rasa konyol jika pembahasan ini dibiarkan berlanjut, lagi pula saya terlalu sibuk untuk berkonyol ria dengan orang yg saya g kenal.

Terakhir, kenalkan nama saya Deasy Arisa, mungkin suatu saat anda ada keperluan, bisa hubungi saya, terima kasih ”
Dari sini saya merasa senang, ternyata penasehat saya memberi solusi cerdas, saya merasa menang dalam perdebatan yang tidak diharapkan dimenangkan oleh siapapun ini. Tapi tetap saja saya merasa lega, sudah mengurangi beban yang tidak seharusnya saya bawa sejak pagi.

Dan alasan saya memposting cerita ini, hanya karena saya geli, hari ini, hari kedua setelah perdebatan itu, si Y memblokir akun FB saya, entah tujuan apa, hanya saja, saya merasa, saya sudah melakukan hal yang tepat

Sapporo 150212

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s