days

Jangan buru2 bilang saya sok anti-mainstream dulu :) – Dsy

Saya masih percaya kata2 “cuek itu adalah senjata yang sangat ampuh”

Kenapa terpikir kata2 ini? Begini ceritanya (pertanda bahwa saya akan meracau dan mengoceh panjang lebar lagi, hehe)

Saya cukup heran melihat maraknya berita dan reaksi banyak orang tentang sebuah film yang katanya melecehkan umat Islam, dan katanya menghina nabi Muhammad.
Saya bilang ‘katanya’ karena saya belum pernah nonton, gak pernah liat trailernya, gak tau jalan ceritanya, sama sekali gak ada gambaran tentang film ini selain beberapa ‘katanya’ yang mampir di linimasa saya.
Jika saya nonton, mgkn saya juga akan berpendapat sama, mungkin saya juga tersinggung, sebagai orang Islam mungkin saya juga akan ngamuk dan emosi, jika memang nabi saya yang mulia dihina oleh siapapun, saya katakan, siapapun, baik yang islam maupun yg belum islam. Menghadapi kehebohan ini, maka saya ambil tindakan paling cerdas yang bisa saya lakukan, yaitu cuek, alias tidak peduli..
Ya, saya putuskan untuk cuek, entah salah entah benar, tapi seperti saya bilang, ini cara tercerdas menurut saya. Klo ada yang bisa menemukan cara yang lebih cerdas, ya selamat, berarti anda jauh lebih cerdas dari saya, mungkin baru segini kadar kecerdasan saya🙂

Miris melihat sebagian orang mengadakan demonstrasi besar2an, entah ke kedubes Amerika atau kemanapun, tidak jarang menjatuhkan korban, hingga ada beberapa yang meninggal, sedih melihat nyawa melayang, dan sedihnya lagi, korban ini jatuh saat berunjuk rasa, dan terjadi kekerasan didalamnya, padahal itu masih sesama kita, miris melihat banyak korban berjatuhan bahkan ketika kita belum atau tidak berhadapan dengan musuh yang sebenarnya, miris lagi melihat banyak yang tersulut emosi sehingga melewati batas kewajaran berunjuk rasa, sedih ya..

Ada juga yang menyeru untuk memboikot penggunaan Youtube dan Google. Yah, well, yang mau ikut ya silahkan, tapi saya pribadi gak mau ah ikut2an aksi boikot ini. Nyaris tiap saat saya mengakses youtube, dari sekedar hiburan seperti musik dan film, sampai nambah2 ilmu, baik ilmu dunia, tidak jarang saya dengar tilawah quran dari youtube..
Begitu juga google, rasanya saya gak sanggup jauh2 dari om yang satu ini, entah merendah entah memang saya bodoh, tapi, apalah saya tanpa google. Dari akun email, bahkan google mail menjadi identitas saya, jalur saya untuk berkomunikasi dengan google chat, bisa berabe klo saya ikut memboikot, hehe..

Entah, mungkin saya yang sok anti-mainstream dg gak mau ikut2an, atau sok berlawanan dengan pendapat banyak orang, atau suka nyari2 perdebatan, tapi ya saya berpendapat, cara saya mungkin adalah cara terbaik yang mampu saya lakukan..

Hingga sekarang, saya merasa alangkah baiknya bila kita begini,

Satu, dengan cuek a.k.a gak peduli.
Logika sederhana saya ya, kenapa film itu jd heboh? Kenapa film itu jd bikin banyak orang ngamuk? Krn filmnya dijadikan bahan obrolan sana sini, diberitahu isinya yg katanya menjelekkan Islam, ya iyalah orang2 jadi penasaran pengen nonton. Kenapa jadi heboh? Krn banyak yg nonton komplain, baik dengan cara2 elegan hingga ada yang tersinggung, marah, ngamuk, trus membabi buta mau konfrontasi sama Amerika..
Hmm, entahlah, menurut saya, alangkah serunya klo ketika film itu keluar, kita cuek saja, yang mau nonton silahkan, yang gak suka ya gak usah nonton. Saya yakin gak akan banyak yg nonton film itu klo kita gak pada tau.
Trus klo ada yg percaya dan terpengaruh, ya itu resiko dia, berarti emang orangnya aja yang gampang dipengaruhi, hehe.
Lagipula, saya yakin aqidah kita gak selemah itu untuk dipengaruhi hanya oleh sebuah film, hehe, maafkan jika saya salah🙂 Juga menurut saya, Islam gak segampang itu lah buat dipengaruhi sama sebuah film. Jadi klo kita gak heboh dan lebay ya gak bakal kenapa2. Lagian, apa yang membuat sebagian orang begitu insecure dg hal2 yang katanya membahayakan aqidah umat, kenapa insecure? Kurang yakin? Atau merasa pondasi kita belum kokoh? Ya, pondasi kita dong yang diperkuat ^_^
Klo kata orang kampung saya, “kalau ka barumah di tapi lauik, yo tarimo dihampeh ombak, mako harus dipatagok tunggak rumah” (Klo mau bangun rumah di tepi laut, ya harus menerima kalo dihempas ombak, jadi ya perkuat pondasi rumah anda).
Sederhana ya begitu, klo kita sudah yakin dengan agama kita, badai sekalipun, ditantang apapun, siapa sih yang bisa menggoyahkan klo hati kita sudah bertekad?🙂

Kedua, berikan lawan yang seimbang. Klo mereka fitnah dengan film, ya berikan lawan dengan film, seperti buku ‘da Vinci code’ beberapa tahun yang lalu, diklarifikasi juga dengan buku. Begitu juga dengan film ini, kenapa kita gak coba bikin film yang mengklarifikasi atau yang memberikan pandangan dari sisi kita? Selain menyanggah, sekalian dakwah juga kan? Dan bikin kita lebih produktif🙂
Jadi kita gak sekedar menjadikan pelecehan dari orang sebagai serangan ke kita, tapi jadi kesempatan kita juga menunjukkan bagaimana kita sebenarnya, apakah kita orang yang berpikir kreatif, ataukah kita orang yang gampang tersulut emosi, atau bagaimana?

Ketiga, ambil sisi positifnya saja, jangan menanggapi dengan konyol atau tanpa pikir panjang..
Ya kan, misal dengan boikot youtube dan google, alasan apa? Krn pemiliknya orang yahudi, trus dg menggunakannya kita jd ikut menyumbang kesuksesan yahudi dan secara tidak langsung membantu mereka membiayai ‘jihad’ mereka?
Ah, lalu bagaimana dg facebook, bagaimana dg produk2 yg kita sering gunakan skrg, minuman kaleng, sabun, pasta gigi, hal2 di keseharian kita yang hampir semua berhubungan dengan pihak yang sering kita cap ‘yahudi’, menurut saya boikot sih sesuatu yg nyaris gak mungkin, entah saya yang terlalu ketergantungan sama produk2 ini atau apa..
Bisa dihitung berapa orang yang benar2 mau mengikuti seruan untuk boikot.
Saya pribadi sih maaf, tidak, dengan banyaknya manfaat yang saya dapatkan, kenapa saya harus ikut boikot, hehe, saya sih ngaku saja, memang manfaatnya banyak kog🙂

Jadi ingat ceramah di mesjid tadi siang, tentang apa yang sebenarnya kita perlukan dalam beragama🙂

Si ustadz seru deh ceramahnya, padahal saya termasuk type selektif untuk urusan ceramah (ustadz aja selektif ya, apalagi, ya, hehe)

Kata si ustadz, kenapa kesannya orang Islam sekarang banyak yg sering berantem, marah2, ngamuk, berantem sesama kita, kadang membully orang dengan agama lain mentang2 kita merasa benar dan mayoritas..

Klo kata ustadz, itu semua karena kita lupa, bahwa esensi beragama Islam diawali dengan berpikir. Si ustadz bilang, orang yang benar2 meyakini Islam adalah orang yang berpikir dan beriman dengan akal, bukan sekedar ikut2an, tapi berpikir dan memahami Islam secara benar..

Ustadz ini orang Indonesia kelahiran Palembang, keturunan tionghoa dan lahir sebagai non-muslim, so what, gak ada yang salah kan dengan keturunannya, heran aja sama orang yg antipati sama cina, apalagi tadi si ustadz tadi cerita buruknya perlakuan orang pribumi pada orang2 cina. Ah, bukankah cina pun pribumi?

Ada yg bilang keturan tionghoa sbg orang China, menurut saya sih itu beda, orang China ya warga negara China kan, sementara keturunan tionghoa sudah turun temurun kan di indonesia, juga seperti banyak keturunan lain, tidak sedikit kan orang Indonesia yg keturunan Arab, India, Eropa, apalagi waktu jaman perang, gak sedikit kan orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda, Jepang, Spanyol, Portugis, dll. Menurut saya semua pribumi sih, tapi definisi pribumi emangnya apa ya? Hehe, maklum rada dodol, hehe
Eh kog ngelantur ke cina ya, pasti terpengaruh linimasa yang heboh sama cagub jakarta dan cawagubnya yg keturunan tionghoa, hehe, oke, mari kembali ke ustadz tadi aja ya, hehe..
Tadi sih saya datang telat ke pengajian, pas datang si ustadz udah cerita lumayan panjang tentang sejarah Islam..
Saya pribadi super iri dengan kisah keIslaman si ustadz🙂

Dari dulu saya emang sering iri sih sama orang2 yg lahir dan dibesarkan belum Islam, tapi mereka mencari, mempelajari dan meyakini Isam.
Beda sama saya yang ‘cuma ngikut’ orang tua, kebayang sih, klo orang tua saya belum Islam saya gimana ya?
*seperti kata si emak di kampung, bersyukurlah kita lahir sebagai muslim, dan diberi kemampuan oleh Allah untuk mempelajari dan memperdalam keyakinaa kita*
Well, both ways of being Moslem are good🙂

Balik ke ustadz *kebiasaan kehilangan fokus, hehe*
Jadi ceritanya si ustadz lagi muter Jepang, untuk dakwah (dan jual buku juga, hehe). Penasaran deh baca bukunya, tp saya belum nemu preview yg bagus ttg isinya, jd gak mau mubazir 1000¥ untuk beli *mental anak kos*😀

Balik ke ceramahnya, kata si ustadz, esensi dari menjadi muslim yang sesungguhnya yaitu berpikir.
Katanya, banyak orang yang berIslam dan menitik beratkan pada ‘What and How’, sementara mereka lupa pada hal yang juga penting, yaitu ‘Why’.
Kita sering terfokus pada bagaimana menjalankan sesuatu, tapi lupa alasan kita melakukannya.
Banyak yang berdebat tentang jilbab, cara pakainya, tapi lupa esensi awal kenapa kita berjilbab.
Banyak yang shalat, berdebat ttg adab, tatacara, dari wudhu hingga salam, kadang lupa esensi awal kenapa kita diperintahkan Allah utk shalat.
Banyak yang debat tentang puasa, kapan mulai puasa, bagaimana menghisab waktu awal puasa, kadang luput memahami alasan sesungguhnya kita berpuasa.
Banyak yg berdebat tentang haram dan halal, tapi sering luput memahami kenapa kita diatur tentang kehalalan dan keharaman.

Ustadz tadi juga bilang, ‘Why’ adalah pertanyaan yang akan terjawab dengan aqidah sedangkan ‘What and How’ adalah pertanyaan yang akan terjawab dalam Fiqh..

Jadi, tidak ada yang lebih penting, dua2nya penting, makanya dua2nya harus ditekankan, memahami kenapa kita menjadi muslim, memahami apa yang kita lakukan sebagai muslim, mengetahui caranya lalu melakukan sesuai cara yang diatur oleh Allah..

Sekian,

Tulisan diawal adalah sedikit keluhan saya melihat fenomena banyaknya orang Islam yang akhir2 ini sering berdebat tentang sebuah film, dan saya tutup dengan kesimpulan dari ceramah ustadz Felix Siauw di masjid Sapporo tadi sore.

Gak nyambung part awal sama akhir dan sering #gagalfokus, hehe, ya sudahlah, yang penting maksud saya tersampaikan..

Klo ada sanggahan, tambahan, ralat, pendapat, silahkan saja, mari berdiskusi dengan bijak, cerdas dan baik..

Sapporo, 24 September 2012
Deasy Arisa *yang masih belajar untuk berIslam secara Kaffah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s