future

Kangen nulis – Dsy

Melihat sejarah tempat yang pernah atau sedang saya kunjungi, terlalu dini klo saya mengklaim diri sebagai orang yang hobby travelling, apalagi sebagai traveller sejati. Bolehlah saya menyebut diri sebagai, ‘penikmat tempat2 baru’, kalau kebetulan ada kesempatan🙂

Saya suka bertualang, itu betul, saya pecinta pemandangan hijau, penggila pantai, pecandu taman bunga, dan penikmat tempat2 berpemandangan ‘beda’, tapi kecintaan saya pada dunia pendidikan justru menjebak saya sehingga tidak bisa kemana2. Saya iri dengan orang yang bilang bahwa masa jalan2 paling seru dan banyak adalah semasa kuliah.

Ya, saya kutu buku, hantu labor, dan penghuni jurusan, sisanya saya mahasiswi freak yang cuma gaul dengan komputer dan cuma mau tiduran dikos2an saking capeknya.
Selama sekolah, saya nyaris tak berhenti berkegiatan, sekolah, les, bimbel, eskul, osis. Menyita waktu dan menjadi alasan ketika saya gak bisa kemana.

Dan 4 tahun kuliah, saya habiskan dengan bolak balik gedung C, jurusan Fisika, Lab Fisika Dasar, Lab Fisika Bumi, Lab Fisika Atom dan Inti serta Lab Fisika Komputasi, sisanya saya akan semedi di kos2an dengan baca buku2 favorit saya, mengobrol hingga dini hari dengan sahabat2, bermain game2 sederhana atau menonton film, sekadar untuk refreshing dari rutinitas membosankan ini.

Dan selain ketiadaan waktu dan kesempatan, saya juga berasal dari keluarga berekonomi pas2an, tidak pernah ada istilah ‘liburan keluarga’ ke luar kota, mungkin liburan terjauh yang pernah kami tempuh, tidak pernah lebih dari sehari perjalanan (pergi pagi pulang malam).
Dan dengan posisi bekerja paruh waktu selama kuliah sebagai anak lab, dengan duit secukupnya, nasib saya sebagai kutu buku lebih menyeret saya ke toko buku daripada menyusun rencana perjalanan, dan lagi2, saya terkurung, di kota sekecil Padang atau Bukittinggi🙂

Sungguh malang, jika dilihat daftar tempat yg benar2 pernah saya datangi. Rasanya saya melewatkan banyak waktu, ketika sebagian besar teman saya sudah bolak balik ke Jakarta, Bandung, Jogja, Bali, dll., saya justru, bergerak tidak lebih dari Bukittinggi, Padang, dan sesekali keluar sedikit, itupun pasti karena alasan pendidikan. Kalaupun pernah berkunjung ke suatu tempat, pastilah itu hasil nyelip dari kegiatan utama seperti ikut lomba, pergi seminar, ada konferensi, dll.

Ya, beginilah saya, menghabiskan waktu untuk ketekunan yang untuk sebagian orang dianggap membosankan🙂

Tapi bukan berarti hasrat saya untuk bertualang surut karena alasan2 ini. Saya masih ingin menjelajah tempat2 baru, menangkap banyak pemandangan dengan kamera saya, bermain ombak di pantai2 cantik, duduk menikmati matahari terbenam, entah di kaki bukit atau di pinggir pantai berpasir putih, hitam, ataupun merah muda, atau menghirup udara yang berbeda di berbagai belahan dunia, dan menginjakkan kaki saya ke tempat2 baru.

Setamat S1, instead of bekerja secara serius, saya terjebak dalam pemikiran bahwa saya maunya hidup sendiri dengan apa mampunya saya, jauh dari perlindungan orang tua, saya ingin mengunjungi dan berada di tempat baru, saya ingin mengalahkan kemanjaan dan ketakutan saya.
Dan itu sungguh tidak mudah.

Ego saya tidak mengantarkan saya kemanapun, tidak memposisikan diri saya sebagai orang mapan yang bisa memenuhi hasrat bertualangnya.
Sekali dua kali berusaha, bisalah saya menyebut diri saya si gagal yang terlalu angkuh untuk dicap gagal oleh sekeliling.
Arogansi menahan saya untuk melangkah pada jalur yang biasa ditempuh oleh kebanyakan orang, sekaligus menjebak saya di satu titik. Saya stagnant di tempat yang sama sekali bukan yang saya inginkan. Stagnansi menjebak dan membuat pola pikir saya jadi dangkal, setidaknya itu yang saya rasakan.

Akhirnya saya sampai pada pemikiran, jika memang interest saya adalah pendidikan, atau melakukan riset, atau bertekun di lab, kenapa tidak saya manfaatkan interest itu untuk mewujudkan impian saya?
Pencerahan pertama, hanya pencerahan, saya masih meraba2 harus maju kemana, saya masih kebingungan, saya bahkan tidak tahu dimana harus memulai.

Sampai kemudian saya berpikir, saya benar2 harus melangkah keluar dan menjauh dari titik ini, saya harus pergi ke tempat dimana dari sana saya bisa menemukan tempat2 baru. Saya harus pergi, tidak harus langsung ke tujuan saya, tapi ke tempat dimana tujuan saya jadi terlihat lebih jelas.

Perlahan pencerahan datang, jalan itu terbuka, dan menggiring saya untuk keluar dan meninggalkan zona tak jelas itu, yang bagi sebagian orang adalah zona nyamannya.

Sekali-kali saya sudah bisa melongok keluar, dan kadang saya sudah bisa berdiri diluar dan melongok ke dalam.
Saya pikir saya harus melakukan apapun agar saya tidak terkurung lagi. Ketika sesekali berdiri diluar, pemikiran yang muncul di kepala saya adalah, saya tidak mau pulang sekarang, saya tidak boleh kembali ke titik yang dulu, dan jika memang dengan cara ini saya bisa mendapatkan yang saya mau, maka saya akan menempuhnya.

Dan disana, perjuangan saya dimulai dengan optimisme baru, merintis jalan untuk kaki saya, entah itu masih di negara sendiri, atau benua ini, atau loncat ke benua lain, kemanapun, yang jelas saya sedikit melihat titik terang.

Langkah demi langkah saya tempuh, mendapat cibiran tidak sedikit, tidak sekali dipandang sebelah mata, dan amat sering dicap gagal. Tapi ketika itu sudah jadi tekad, saya belajar untuk tidak peduli pada energi2 negatif itu. Saya mengunci impian saya jauh di depan, jauh dari apa yang bisa dilihat oleh orang lain. Disana impian saya menunggu. Menunggu untuk saya kejar, dan saya raih.

Perlahan kekerashatian saya membukakan jalan, bukan jalan utama, tapi setidaknya jalan setapak sudah ada di depan saya.

Perlahan saya bertemu lebih banyak orang berpikiran positif, perlahan saya bertemu orang2 yang mendorong saya maju dan menahan saya saat ingin berbalik pulang.

Dan disinilah saya sekarang, di kota asing di negara asing, menjalani petualang saya sendiri, tergila2 masih dengan pendidikan, disibukkan masih dengan penelitian2, masih saja terkunci ditempat bernama kampus, masih bolak balik ke lab. Saya tidak tahu apakah saya sekarang sudah ada di jalan besar dan tinggal melaju kencang, ataukah saya masih menyiangi belukar untuk jalan setapak saya.

Yang jelas sekarang saya sedang melangkah maju, dan saya sudah melihat tempat impian saya. Berapa jauh lagi? Berapa lama lagi? Saya tidak tahu, satu2nya cara menjawabnya, tentu dengan menempuhnya, dan hanya akan terjawab ketika saya sudah berada disana nanti🙂

Bismillah untuk hari esok p(^-^)q

Sapporo *di musim gugur nan dingin*

Dsy,

7 Oct 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s