days, future

Saya ‘nyasar’ – Dsy

Saya nyasar berkali-kali, dan saya bersyukur karenanya🙂

Saya sering berpikir, betapa sering saya berada di tempat-tempat yang tidak saya inginkan, bukan tempat yang benar-benar saya harapkan untuk saya kunjungi.
Tapi lebih sering lagi, kemudian saya tersadar, bahwa tempat-tempat yang ‘salah’ inilah yang mengantarkan saya pada hidup yang saya jalani sekarang, dan mungkin juga sekarang adalah salah satu episode ‘nyasar’ dalam hidup saya :))

Episode ‘nyasar’ pertama kali, mungkin waktu saya masuk sekolah menengah, instead of mengikuti jalur kebanyakan teman yang mengambil sekolah umum, saya malah ‘nyasar’ ke Islamic High School.

Menyadari betapa nyasarnya saya, dan betapa seringnya saya berpikir ‘andai saya tidak disini’, membuat saya berpikir, saya tidak boleh ‘nyasar’ lagi saat kuliah nanti. Saya harus memilih jalur yang benar-benar saya inginkan.

Dan voila! Saya lagi-lagi dikirimkan tuhan bukan pada tempat yang saya inginkan. Saya ‘nyasar’ ke jurusan fisika, masih berdekatan dengan jurusan impian saya, too close to be reached, tapi baru nyaris, belum tepat disana :))

Syukurnya saya adalah tipe yang mungkin pasrahan, keras hati sih iya, tapi klo udah berada di tempat tertentu, klo udah saya anggap itu takdir, ya akan saya jalani sebaik mungkin.

Setamat kuliah, yang belakangan malah saya nikmati dan sukai, kuliah yang tetap dengan nafas tersengal saya selesaikan, lagi-lagi saya berpikir, ‘kali ini harus pas, tidak boleh meleset lagi’. Jika dulu tekad itu hanya jadi keinginan, sekarang dia menjelma menjadi ego, yang menahan saya untuk melangkah jika tempat itu saya lihat bukan yang saya yakini.

Namun lagi-lagi takdir menyesatkan saya ke tempat lain, kali ini saya dilempar jauh, ke pulau terujung negeri asing ini. Belajar ilmu ‘baru’ yang dulu saya hanya tahu namanya. Saya tersembunyi di kota yang jauh dari kehangatan, jauh dari sahabat dan keluarga. Pulau jauh yang bahkan matahari pun enggan singgah berlama-lama, yang bahkan semutpun jarang yang sudi mampir kesini.

Dan hari ini saya masih disini, bertahan. Karena saya masih orang yang dulu, yang ketika terlanjur nyemplung, saya melakukan yang terbaik didalamnya. Syukurnya juga, saya sangat menikmati setiap proses saya yang selalu tersesat sana sini, mungkin saya jatuh cinta pada tempat saya tersesat, dan pada apa yang menjebak saya didalamnya. Konyol mungkin.

Hari ini saya disini, masih jauh dari tempat impian saya, masih jauh dan butuh waktu lama untuk mencapainya. Dan sepertinya saya akan ‘nyasar’ untuk waktu yang lama.

Dan saya yakinkan, saya tidak pernah mengeluhkan kemanapun saya terlempar. Membayangkan tempat impian saya tentu pernah, tapi bukan berarti saya menyesali dan terlemahkan disini. Saya masih Deasy yang heboh, ceplos ceplos, ceria sekaligus pemikir yang tak terkontrol. Saya masih saya yang, hmm, luar biasa ^_^

Mungkin ada baiknya saya berpikir sedikit lebih jernih. Bagaimana jika ternyata, tempat-tempat yang saya pikir salah, adalah tempat-tempat yang memang tuhan pilihkan untuk saya lihat dan kunjungi? Bagaimana jika hal-hal yang salah yang terjadi pada hidup saya ternyata adalah hal terbaik yang dirancangkan tuhan dalam disain hidup saya? Bagaimana jika saya yang memandang dari sisi yang salah?

Hal tersederhana seperti, andai saya dulu tidak nyasar waktu masuk Islamic High School, mungkin saya akhirnya tidak akan nyasar juga ke jurusan fisika, dan mungkin saya tidak akan sampai ke kutub ini. Andai waktu itu saya tidak nyasar, mungkin saya akan bertemu teman-teman yang berbeda, mungkin saya akan bertemu dia yang berbeda, bukan dia yang dulu yang saya jatuhi cinta. Mungkin guru-guru yang akan saya temui bukan guru-guru yang sekarang saya kenal. Jika tidak ‘nyasar’, mungkin saya tidak akan pernah berpetualang ke tempat2 yang pernah saya kunjungi sekarang, bisa jadi saya akan bertualang lebih jauh, atau mungkin tidak kemana-mana. Apakah ini rancangan terbaik untuk hidup saya? Atau, apakah rancangan versi lebih baik hidup saya ada di tempat lain?

Atau ketika saya membayangkan, jika saya tidak ‘nyasar’ ke jurusan fisika, maka mungkin saya tidak akan ada disini saat ini, bisa saja saya sudah menjadi saya yang lain di tempat yang lebih baik, atau mungkin saya sedang menyesali, kenapa saya tidak menjalani saja apa yang sudah dipilihkan.

Dan ketika saya terduduk menatap dedaunan yang mulai berubah warna di kota yang hampir membeku ini, kembali saya berpikir, andai saya tidak ‘nyasar’, akan ada dimanakah saya saat ini?

Saya jadi berpikir, mungkin benar adanya, saya hanya ‘nyasar’ dalam persepsi saya. Hanya saya yang merasa bahwa saya berada bukan di tempat yang saya inginkan. Padahal, bisa jadi, tempat-tempat dan jalan hidup versi seperti inilah yang memang seharusnya saya tempuh.

Mungkin versi hidup yang ‘andai saya tidak nyasar’ bukanlah versi hidup yang lebih baik buat saya. Mungkin versi hidup itu hanya terasa akan baik karena saya tidak pernah benar-benar menjalaninya.

Dan sekarang, saya menjadi bersyukur karena tuhan mengirimkan saya ke tempat-tempat yang salah🙂

Di tempat yang salah itu, saya belajar lebih banyak..
Di tempat yang salah itu, saya diberikan pemahaman yang lebih baik tentang agama saya..
Di tempat yang salah itu, saya bertemu dengan teman dan sahabat yang selalu mendukung semangat saya..
Di tempat yang salah itu, saya bertemu orang-orang yang juga tidak menyukai saya..
Di tempat yang salah itu, saya memulihkan diri dari kekecewaan-kekecewaan saya..
Di tempat yang salah itu, saya bertemu sosok yang pernah mewarnai hidup saya, biru, merah muda, jingga..
Di tempat yang salah itu, saya sering tersenyum bahagia, tergelak bersama sahabat, terbuai dalam romansa, dan tersudut dalam episode-episode patah hati, jatuh cinta, pertengkaran-pertengkaran, dan konflik-konflik yang unik..
Di tempat yang salah itu, saya bertemu pendidik-pendidik luar biasa..
Di tempat yang salah itu, saya belajar menjadi saya yang lebih dewasa..
Di tempat yang salah itu, saya mengumpulkan penyesalan-penyesalan dan pengandaian-pengandaian..
Di tempat yang salah itu, saya melihat hidup saya seperti serpihan-serpihan yang membingungkan..

Sudah saatnya mungkin saya sadar, tidak ada yang salah dengan tempat-tempat itu. Sayalah yang dengan salah menganggap salah tempat-tempat itu.

Saya yakin, jikapun sekarang episode hidup saya masih berupa serpihan kecil tak bermakna, namun pada saatnya nanti, tuhan akan terus membuat saya ‘nyasar’, sehingga saya bisa terus mengumpulkan serpihan itu..
Saya yakin serpihan hidup saya adalah kepingan mozaik yang sudah dirancang tuhan untuk saya, bukan hanya serpihan-serpihan tak bermakna yang membingungkan..

Saya sendiri penasaran, gambar apakah yang akan saya dapati ketika semua mozaik itu terkumpul dan tersusun nanti..
Saya sendiri penasaran tentang kemana lagi saya akan ‘nyasar’ esok hari..
Saya masih penasaran, siapa lagi orang-orang ‘salah’ yang akan saya temui esok..
Saya masih amat sangat penasaran dengan hidup saya🙂

Sapporo, 11 Oktober 2012

oleh Deasy, yang selalu sulit tertidur karena kepalanya terlalu sibuk berpikir, mereka-reka dan membayangkan rancangan-rancangan hidupnya, yang masih menjadi misteri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s