days

Cerita yang tertinggal dari Hokudaisai 2012 – Dsy

Hokudaisai 2012 memang sudah berlalu, dan sebagai koordinator, saya juga sudah menyampaikan LPJ pada forum, dan secara resmi tugas saya sebagai koordinator juga sudah berakhir.
Tapi dibalik itu semua, ada cerita yang tidak secara resmi saya tuliskan, seperti kenangan-kenangan dan pelajaran-pelajaran yang saya ambil dari kegiatan ini.

Cerita yang sudah jamak tentunya cerita tentang susahnya mengumpulkan anggota yang siap untuk bekerja tanpa pamrih, susahnya meminta sedikit waktu mereka disela jikken dan kuliah yang padat, dan tentunya complain dari sana sini tentang kesibukan masing-masing yang tidak bisa membantu banyak dalam kegiatan ini.

Saya banyak sekali mendapat komplain, telepon dan sms, tentang ‘kog saya kebagian tugas banyak, si anu cuma segitu‘, atau tentang ‘saya gak bisa hari ini, ganti ya, saya bisanya hari itu’, dll. Dan sukses memusingkan mba Ines yang bertugas membagi jadwal.
Cerita tak kalah menarik adalah mendiskusikan makanan apa yang akan disajikan nanti. Chatting di facebook messenger mencatat ratusan obrolan berisi saran menu, dan tdak sedikit yang mengusulkan menu spesifik, (sekaligus curhat colongan tentang makanan yang dikangeni dari Indonesia, dan sering sukses bikin semua peserta diskusi berteriak, ‘ah, kangeeeenn’, hehe). Akhirnya dipilihlah menu nasi goreng sebagai andalan (menu wajib dan trade mark Indonesia tiap tahun), lalu tahu isi, pempek Palembang, bubur ayam, dan kerupuk udang. Benar-benar rasa Indonesia yang bikin kangen pulang kampung🙂

Cerita lain adalah sulitnya mencari waktu untuk sekedar merundingkan apa yang harus dikerjakan. Rapat sekali seminggu dirasa kurang, diskusi sering dilanjutkan di facebook messenger. Diskusi yang kadang tidak kenal waktu, kadang di kelas, di lab, bahkan hingga tengah malam.

Menjelang hari-H, hampir semua persiapan selesai, tinggal eksekusi sesuai rencana..
H-1, saya mencatat diri saya dalam sejarah, gara-gara keteledoran saya, Indonesia tidak mendapatkan tenda untuk acara, dan saya secara resmi merusak hampir 80% rencana tim dekorasi. Saya yakin pak Rondhy sebagai perancang dekorasi waktu itu amat kesal dengan kecerobohan saya yang tidak bisa dimaafkan (dan saya gak berani ngomong banyak, dan selain menggigil, saya hanya bisa menangis sambil bolak-balik ke tenda HUISA mencoba mencari jalan keluarnya).

Beruntung, dengan bantuan senior-senior, pak Lubis, mas Himawan dkk, akhirnya kita dapat pinjaman tenda dari HUISA (dan akhirnya kita hemat 11 ribu yen, karena tenda ini digratiskan, karena ternyata ketiadaan tenda kita adalah sumbangan keteledoran dari HUISA juga, hehe, alhamdulillah rejeki)
Empat hari Hokudaisai berjalan, sebagai koordinator saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, saya belajar banyak tentang ketidakmampuan saya menghandle situasi tertentu, tentang saya yang kurang tegas, tentang beberapa anggota yang tidak menepati jadwal jaga, tentang costumer yang berdatangan sementara lapak kita belum buka, dan bagaimana wajah menyesal kami melepas mereka dengan kata ‘maaf, menu kita belum siap’. Senyum senang sekaligus menyesal melihat tulisan ‘nasi goreng akan siap 30 menit lagi’,. Seru melihat teriakan promosi ala pak Eko, Amanda, mba Erni, Marco (yang sampai kehabisan suara), dan teman-teman yang tidak bosan menawarkan masakan kita pada siapapun yang lewat. Dan sangat mengharukan melihat banyaknya orang Jepang yang antri untuk sekedar mencicipi nasi goreng hasil olahan Michael dan team, yang tidak kenal lelah, memasak tiada henti dengan kostum blankon andalannya, dan terharu melihat wajah mereka yang menikmati dadar gulung (sedikit mengobati lelah saya dan Annisa yang hampir tidak tidur untuk memasak dadar gulung itu, hehe), serta excitement mereka mencicipi tahu isi, pempek dan bubur ayam khas Indonesia ^^

Empat hari yang berkesan bagi saya pribadi, saya belajar banyak hal, bahwa ternyata ‘mengatur’ sekian banyak orang dengan pola pikir, sikap dan polah yang berbeda sangat tidak mudah. Saya belajar banyak hal tentang mengontrol diri saya sendiri, emosi saya, sikap saya. Saya belajar banyak tentang pentingnya ketegasan dalam memimpin sebuah tim.

Setelah hari itu, saya melihat diri saya masih sebagai orang yang sangat jauh dari kata ‘mampu’ untuk memimpin sebuah tim, bahwa saya masih harus belajar, mencoba menjadi lebih baik. Saya belajar banyak dari semuanya.

Terima kasih kepada keluarga besar PPI Sapporo yang sudah memberi saya wadah untuk mengecap semua pelajaran dan pengalaman ini. Terima kasih sudah mengajarkan saya banyak hal. Dan semoga Hokudaisai selanjutnya akan lebih baik.
Terima kasih banyak, dan maafkan segala kekurangan saya dalam mengkoordinir teman-teman, mari sama-sama belajar, dan bersiap untuk Hokudaisai 2013 yang lebih baik.

Salam hangat

Deasy Arisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s