future

Where will my future take place? – Dsy

Saya tidak pernah sama sekali membayangkan akan melangkah keluar dari negara saya sendiri..
Realistis, bahwa kemampuan saya tidak akan membawa saya bergerak terlalu jauh..
Realistis, bahwa secara intelegensia, saya hanya sedikit cerdas, tapi belum sanggup menjadi luar biasa..
Realistis, bahwa secara finansial, jangkauan kaki saya tidak akan terlalu jauh..

Tapi mimpi saya tidak pernah realistis..
Teman-teman bilang saya ini banyak maunya..
Sahabat saya bilang, saya terlalu optimis..
Saya adalah pejuang untuk peluang sekecil apapun..
Saya adalah pekerja keras untuk mimpi-mimpi saya, yang mungkin terlihat hampir tak mungkin..

Hanya saja, saya kadang tidak bisa membayangkan, bahwa mimpi-mimpi itu akan benar-benar saya jangkau..
Sampai kemudian, secara beruntun saya ‘dikirim’ pada tempat-tempat luar biasa, mengantarkan saya pada tempat yang jauh dari yang bisa saya bayangkan, tempat-tempat impian saya..

Bagi saya ini kebetulan, kebetulan-kebetulan yang tuhan sengaja rancang untuk saya..

Sekarang saya boleh dikata sedang berada ditempat yang juga tidak terbayangkan, bahkan tidak pernah benar-benar saya impikan, saya hidup dikelilingi gunungan es, melihat angka -20℃ di display termometer, berbulan-bulan ditampar badai salju, hanya beberapa hari dalam setahun saya benar-benar melihat matahari dan merasakan hangat, tertegun kadang melihat lemari saya penuh jaket tebal, dan melihat berpasang boots musim dingin ada di rak sepatu saya..
Ini dunia yang jauh dari imajinasi saya..
Kalau sekedar mimpi mungkin pernah, mimpi sekilas, tapi tidak terbayangkan akan ada disini, pada akhirnya..

Tapi akhir-akhir ini saya sering di’bully’ oleh teman-teman disini sebagai calon beruang kutub..
Ya, saya dapat tawaran dari fakultas untuk menerima beasiswa lain, untuk melanjutkan S3 saya disini..
Berarti saya masih akan berada di kutub ini selama 3.5 tahun lagi..
Dan lebih setengah dari masa itu adalah hidup dengan salju tebal..
Membayangkan itu, saya bingung..

Di satu sisi saya tentu bahagia, siapa sangka seorang anak kampung seperti saya akan punya keberuntungan sebanyak ini, punya pendidikan sampai S3, adalah sesuatu yang jauh melebihi apa yang pernah saya bayangkan..

Di sisi lain saya tertegun, apa iya saya sanggup, apa iya saya mampu bertahan disini?
Apa iya saya betah berlama-lama disini?
Saya jawab, hati saya menjawab, tidak..

Rasanya saya sudah jenuh ada disini..
Saya sudah bosan dengan apapun yang saya dapati disini, semuanya..
Saya berada di posisi, bersyukur dengan 2 tahun yang penuh berkah, 2 tahun luar biasa yang memberi saya tempat untuk mencari ilmu dan pengalaman baru, saya bersyukur untuk mimpi yang menjadi nyata ini..

Tapi..
Saya terlanjur nyaman dengan semua kemanjaan yang diberikan oleh kaisar Jepang ini, uang kuliah, uang jajan tiap bulan, uang tabungan, kesempatan kesana kemari, semua diluar semua ilmu kuliah, adalah hal yang melenakan saya..
Dunia saya terlalu ‘tenang disini’, sudah lama sekali saya berhenti bermimpi, sejak ratusan juta rupiah dikucurkan ke rekening saya, saya seperti diajak terlena bahwa inilah surga mimpi itu, saya seakan dirayu untuk berhenti memimpikan hal lain diluar dunia saya sekarang..
Saya terlanjur menikmati ‘ketenangan’ ini, berada di posisi, diam saja dan terima semua kenyamanan ini..
Saya lupa, bahwa pisau yang setajam apapun, tidak akan berguna jika tak pernah dipakai, dan akan tumpul jika tak pernah diasah..
Itu saya..

Hingga kemudian saya ingat, saya punya mimpi lain, saya pernah punya..
Mimpi lain yang selama 2 tahun ini saya simpan rapat-rapat, mimpi yang sudah saya anggap tidak akan saya kejar lagi, mimpi yang secara tidak sadar saya lupakan..

Hari ini saya membuka catatan-catatan lama..
Catatan mimpi-mimpi saya..
Dan saya berpikir, saya harus berjudi lagi..
Saya harus berjuang lagi..
Pisau itu harus terus dipakai dan diasah, agar bermanfaat dan tetap tajam..

Sekarang saya sedang amat sangat bersemangat..
Saya akan mengejar mimpi itu, mimpi yang dulu saya kejar, dan terlupakan ketika saya dimanja disini..
Saya akan mengejar mimpi lain..
Yang jelas, saya akan berusaha keluar dari kutub ini..
Usaha semaksimal mungkin, agar saya bisa menjelajah dunia lain..
Dunia impian saya..

Tidak mudah memang..
Saya realistis..
Bahwa secara intelegensia, saya hanya sedikit cerdas, belum luar biasa..
Saya realistis, bahwa mimpi ini terlalu tinggi untuk diraih, terlalu jauh untuk dijangkau, terlalu luar biasa untuk dikejar..

Tapi ya, saya masih deasy yang dulu, yang sudah tidak terlena oleh yen yang dihadiahkan untuk ‘ketenangan’ saya..
Saya masih deasy yang dulu, saya yang terlalu optimis..
Saya yang pejuang untuk peluang sekecil apapun..
Saya yang pekerja keras untu mimpi-mimpi saya, yang mungkin terlihat hampir tak mungkin..

Sekarang..
Tugas saya hanya berusaha sekeras mungkin..
Entah saya berhasil atau tidak, entah saya akan tetap terkubur disini atau dikirim tuhan ke benua lain, ataukah dipulangkan ke kampung halaman, itu urusan nanti..
Yang jelas saya berusaha, saya berdoa, dan saya pasrahkan sisanya pada tuhan..

Tuhan yang tahu, tempat terbaik untuk saya..
Entah Asia, atau Eropa ^^

Saya hanya berusaha, berdoa, berjuang, mengikhlaskan, lalu pasrah :’)

Sapporo, 5 Maret 2013

Deasy, yang agak terhibur melihat es diluar yang sudah mulai lumer..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s