days, heart

(terlihat) Sempurna – Dsy

Aku pernah sekali, jatuh pada seorang lelaki, yang, sempurna. Dia terlalu sempurna dimataku. Dia punya semua hal yang aku impikan ada pada lelakiku kelak.
Wajah yang terlihat tampan (setidaknya di mataku, dia sangat ‘pas’, hehe), senyum yang menawan, mata yang meneduhkan, isi kepala luar biasa, smart dan lawan bicara yang ‘pas’, nyambung, mengerti banyak duniaku, bisa memberi banyak masukan dan solusi, dalam banyak hal, kuliahku, risetku, bahkan hal-hal lain. Dia lelaki yang tahu banyak, mengerti banyak, berwawasan luas, dan berpandangan menarik.

Dia sedikit dari orang yang (pernah) betah bersamaku, sabar duduk berlama-lama denganku, hanya untuk membicarakan rumus-rumus fisika, dia sedikit dari orang yang betah ngobrol berlama-lama denganku, mendengar keluhku saat aku bingung dengan kemana dan ingin apa aku. Dia, yang juga tidak segan membagi resahnya denganku. Dia , si introvert, yang tidak suka berbagi dunianya, tapi denganku, dia sering menyampaikan gundahnya. Obrolan tidak pernah habis, berjam-jam, saat kami sudah saling berbicara dan saling mendengarkan. Dia, yang bagi orang lain pendiam, tiba-tiba bersamaku bisa membicarakan banyak hal, berbagi banyak hal.

—————————————

Sesuatu itu sering terlihat indah dan luar biasa, bukan semata karena hal itu indah, tapi bisa jadi karena kita hanya memandangnya dari jauh, dari sudut pandang yang menambah keindahannya..
Seseorang itu sering terlihat luar biasa, ada kalanya karena dia memang luar biasa, tapi bisa jadi dia hanya luar biasa karena kita hanya melihat dia dari sudut pandang kita.

Kenapa kita tidak bisa dengan mudah melupakan orang yang kita cintai (dan tidak bisa dimiliki)?
Sederhana sekali.
Itu karena orang itu bertahan di mata kita sebagai orang yang sempurna.
Itu karena kita terus meyakini bahwa dia begitu sempurna, kitalah yang berkekurangan dan tidak pantas bersamanya.

Dan dia?
Tetap sempurna atau luar biasa di mata kita.
Sebagaimana kita melihat dia dari jauh.
Sebagaimana dia dalam mata kita, yang membuat kita mulai jatuh padanya.
Sesempurna dia dalam imajinasi kita.

Karena kita tidak punya kesempatan untuk melihat dia dari dekat.
Karena kita tidak punya waktu untuk menemukan celah-celah kekurangannya.
Karena kita bertahan tanpa sempat melihat banyak hal yang sebenarnya tidak dia miliki.
Dan itu kadang membuat mata kita tertutup untuk melihat kemungkinan lain.
Dan ketiadaan kemungkinan lain, mungkin membuat kita belum bisa mengalihkan pandangan darinya.
Dan itu membuat dia bertahan dalam ‘wish list’ kita, entah memang karena cinta, karena butuh, entah karena mengharapkan, entah obsesi, atau mungkin karena ‘penasaran’ saja.

—————————————————

Aku pernah berada di posisi, dimana aku melihat sesuatu yang luar biasa, berusaha sekeras mungkin berada di posisi itu, dan perlahan menemukan bahwa ternyata itu tidak seluar biasa yang terlihat.
Dan cukup lama aku bertahan dengan memimpikannya.

Kenapa aku (terlihat) bertahan dengan perasaan itu, yah mungkin salah satu alasan di atas. Entah yang mana, entah salah satu, entah dua atau tiga dari sekian banyak kemungkinan itu.

—————————————————–

Aku pernah sekali jatuh padanya, jatuh pada semua kesempurnaannya.
Berharap bahwa diapun akan jatuh padaku, berharap diapun akan merasakan hal yang sama.
Berharap dia akan melihat ‘kebawah’, dari singgasana sempurnanya, melihatku disini, yang masih jauh dari kata ‘pantas’ untuknya.

Tapi setidakpantas apapun, aku tetap berharap, saat itu, dia akan melihat kepadaku, dengan cara yang sama, seperti caraku melihatnya.
Aku berharap akan bertahan menjadi orang yang tetap dsisinya, dengan segala kesempurnaannya.
Kesempurnaannya yang juga membuatku terintimidasi.
Menekanku pada posisi, aku yang punya amat sangat banyak kekurangan, tidak akan pernah pantas, bahkan untuk memimpikan bersamanya.

——————————————————

Sapporo, 15 Maret 2013

Deasy, yang sedang merasa terintimidasi, kali ini, karena dianggap terlalu luar biasa oleh seseorang disana, padahal mungkin, dia hanya belum melihat segala ketaksempurnaanku, bahwa bukan tentang dia yang pantas atau tidak untuk bersamaku, bahwa ini juga bukan tentang aku yang secara ilusi terlihat ‘tinggi’ di matanya, bahwa ini hanya karena, tuhan tidak mengiyakannya untukku, dan aku untuknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s