blog, days, family, friends, future, heart

Iya, saya sedang S3, ada masalah? – Dsy

Haha, sengak banget kesannya bikin judul begini.
Ya maafkan, namanya juga lagi tanggalnya ngamuk-ngamuk ((:
Tapi sih aslinya, emang nada saya akan gitu sih, klo berhadapan sama statement tentang S3 saya, yang jadi disangkut pautkan kesana sini..

Iya, ini curhatan saya, maklum lagi nganggur dan lagi mood ngomel dan nyari masalah ((:
Lho, ini si Deasy lagi ngomel-ngomel tentang apa sih?

Saya Deasy. Umur saya 28 tahun. Single. Belum punya pekerjaan tetap. Sedang kuliah, S3. Di Jepang.
Itu saya. Enak kan? (:
Enak sekali, menyenangkan, saya jujur. Setidaknya pasti ada satu dua orang yang ingin ada di posisi saya ((:
Tapi fakta yang menyenangkan ini, sekaligus terasa pahit saat mendapati bahwa ini jadi bumerang buat diri saya sendiri. Atau, mungkin bisa saya tambahkan, status saya ini, seperti mantra sakti yang menjauhkan saya dari lelaki, haha, iya, lelaki ((:
Iya, saya sedang ingin curhat, biarlah, abaikan saja (:

Saya Deasy. Umur saya 28 tahun. Single. Belum punya pekerjaan tetap. Sedang kuliah, S3. Di Jepang.
Dan bagi saya, itu sebuah keuntungan, rejeki yang tidak bisa dan tidak ingin saya tolak. Harusnya menyenangkan bukan, bisa kuliah, apalagi sampai S3, apalagi diluar negeri, kurangnya apa? Hidup harusnya berjalan dengan damai.
Harusnya ((:
Karena nyatanya hidup saya gak sesederhana dan sedamai itu. Gak segampang, pergi pagi, pulang sore, kerjaanya cuma ngampus, trus tidur enak, tiap bulan dapat duit, jajan sana sini, jalan kemana-mana.

Saya Deasy. Umur saya 28 tahun. Single. Belum punya pekerjaan tetap. Sedang kuliah, S3. Di Jepang.
Iya, itu isu besar saat ini, si Deasy udah S3, tapi masih single ((:
Lalu ada masalah? Tentu saja, itu masalah BESAR!!!
Karena saya menyalahi pola normal di masyarakat *bahasanya ((:
Kenapa? Karena di masyarakat kita sudah terbentuk pola begitu. Masyarakat membentuk pola yang ideal menurut mereka lalu itu dijadikan kebenaran mutlak sehingga siapapun yang menyalahi pattern itu akan dianggap sebagai orang yang aneh, salah, tidak normal, dan sebagainya.

Kalau menurut saya? Ya menurut saya sih, wajar lah saya masih single, kan saya juga bukan di.. bla bla bla…
*siapa juga yang peduli pendapat saya ((:

Saya sering ngobrol dengan teman, senior, guru, dosen, orangtua, dan pasti nyerempet pada hal sensitif, seperti, jodoh. Itu tema yang tidak bisa dihindari, dan memang saya tidak menghindari pembicaraan ini.
Risihnya sih, sayalah yang jadi objek pembicaraan. Kenapa? Karena saya sudah 28 tahun, dan masih sendiri *guling-guling di salju*
Sensitif bukan? ((:
Banget. Ini pembicaraan sensitif buat banyak orang.
Tapi Alhamdulilllah masih banyak orang orang yang tidak pernah luput mempedulikan saya dan tanpa sungkan mengajak saya membicarakan hal sesensitif ini. Sumpah, saya tersentuh, dan berterima kasih dengan cara kalian menyayangi dan mempedulikan saya (‘:

Tentu sangat sering saya terlibat dalam obrolan yang bikin saya perlahan mengangguk-angguk, sekaligus memikirkan banyak hal, sekaligus lagi, bingung. Obrolan hampir rutin, dan makin rutin sejak saya menginjakkan kaki disini ini 2.5 tahun yang lalu..

… di tengah-tengah obrolan, akan terselip kalimat-kalimat begini..
T : “dsy, kamu keren, kamu S2 trus S3, di luar negeri pula. Tapi, kamu perempuan”
D : “emang kenapa klo perempuan?”
T : “perempuan umur 28 tahun, mandiri, itu mengerikan buat laki-laki”
D : “hah, segitunya?”
T : “ya iya, karena kamu perempuan. Beda. Klo laki-laki, udah S3, itu harganya makin tinggi, yang nawar makin banyak, makin laris”
me : *yaelah, emang dagangan ((:*
T : “tapi klo kamu perempuan, harga kamu makin tinggi, tapi yang nawar gak ada, orang-orang takut”
T : “susah buat laki-laki menerima, klo perempuannya yang lebih dari dia, entah kerjaan, sekolah, kekayaan, apapun itu..”
me : *seperti biasa, melongo*
T : “laki-laki klo S1, S2 apalagi S3, itu yang mau banyak, dia mau cari perempuan buat jadi istri gampang, tinggal pilih. Tapi klo kamu S2, apalagi S3, berapa sih lelaki yang gak takut, gak minder, dan berani mendekati kamu?”
me : *ngangguk-ngangguk* *makin melongo* *sambil mikir* *lalu kebingungan*

Obrolan semacam itu tidak terjadi sekali dua kali, sering, dan terjadi dengan banyak orang. Sepertinya ada pendapat seragam yang tidak bisa saya sanggah. Bahwa perempuan 28 tahun yang mandiri dan pintar itu (iyain aja, hehehe..), mengerikan. Pendapat yang nyaris seragam, bahwa saya, mengerikan buat para lelaki diluar sana ((:
Lucu yah. Iya, lucu *senyum miris*

Iya, status itu ternyata penting! Penting untuk membingungkan saya dengan banyak pertanyaan.
Saya benar-benar ingin tau, apa kita memang bisa menilai seseorang hanya dari statusnya?
Seseorang dengan rentetan gelar di depan dan belakang namanya, apakah dia lantas lebih segalanya dari seseorang tanpa gelar?
Seorang dokter, apakah lantas dia lebih tinggi daripada seorang tukang jahit?

Itu sesuatu yang tidak bisa dibandingkan, menurut saya..
Bagaimana mungkin, hati, pola pikir, attitude, harus melulu dinilai berdasarkan tinggi rendahnya status?
Ah, tapi siapalah saya, pendapat saya, hanya angin lalu ditengah hiruk pikuk orang diluar sana yang riuh sekali membicarakan si A yang kerja di perusahaan B bergaji sekian dan si C yang dapat beasiswa hingga S3 di eropa atau si D yang mendadak kaya karena dinikahi pengusaha, bla bla bla.
Itulah isi dunia, selalu itu, materi, uang, popularitas, gelar, ahh, selalu itu yang dikejar, selalu itu yang dipandang, selalu itu yang dinilai..

Saya yang masih lugu ini (iyain aja, biar cepet d:), tentu bingung, bukannya S2, S3, gelar, itu cuma status? Bukannya sebuah pekerjaan, belum tentu menentukan siapa kita sebenarnya? Iya, saya masih sering bingung dengan banyaknya orang yang terlalu dipusingkan dengan status. Dan walaupun saya bukan orang yang memusingkan status, tapi saya terbawa-bawa dan kadang (sering, mungkin) jadi korban dan terjebak dalam pusaran ‘pentingnya status’ bagi sebagian orang..
Di suatu waktu, itu mungkin biasa saja, tapi di lain hari, itu bisa jadi musibah dunia akhirat ((:

Menjadikan status, gelar, pekerjaan, pendapatan, yang hanya diukur dari kulitnya sebagai tolok ukur dari segala hal, bagi saya, itu konyol..
Iya, saya aneh, bandel, ngeyel, karena kadang saya selalu memaksa memikirkan sesuatu dari sudut pandang saya. Saya tumbuh menjadi orang yang tidak suka terlalu memikirkan kata orang. Saya ingin terus menjadi saya dengan pola saya sendiri, bahwa saya tidak ingin terjebak pada sebatas kulit, sehingga lupa menilik lebih dalam.
Tapi, ya, tapi nyatanya saya hidup disekeliling pola yang lebih besar dan kuat, yang lama-lama jadi mengganggu stabilitas otak saya, iya, isi kepala saya makin kacau sekarang.

Capek.
Iya, saya capek dengan bagaimana orang seenaknya mengaitkan sesuatu dengan hal lain yang kadang gak bisa dikaitkan begitu saja.
S1, S2, S3 itu, tentu saja, berpengaruh besar dalam hidup saya. Pasti. Itu hal yang tidak mungkin saya sanggah.
Pola pikir saya dibentuk, banyak hal dalam diri saya, memang dibentuk dari pendidikan yang saya jalani.
Tapi apa iya, lantas pendidikan saya bisa dijadikan standar, untuk semua hal tentang hidup saya?
Apa benar, status saya ini malah bikin saya menakutkan, bikin ‘harga’ saya naik sekaligus bikin ‘pembeli’ pada takut?
Saya ingin berhenti pada pertanyaan konyol itu. Karena saya capek, toh jawaban yang berseliweran di depan saya, sudah sangat jelas, memojokkan saya, dan menyalahkan pola pikir saya.

Ah, saya capek, saya tidak ingin memikirkan terlalu banyak hal lagi.
Saya percaya, yang tengah berjalan kearah saya, dan yang sedang saya tuju, adalah seseorang yang masih ‘senormal’ saya (:
Yang tidak melulu menilai saya menakutkan hanya karena apa yang tengah saya lakukan. Yang tidak melulu menilai saya dari luar. Yang tidak melulu melihat ‘harga’ saya hanya karena embel-embel yang saya bawa.
Saya tidak butuh ‘pembeli’ yang mampir, lihat-lihat, lalu berjalan dengan tertunduk karena melihat ‘harga’ yang tinggi. Tentu saya juga tidak ingin ‘pembeli’ yang cuma mampir, melihat packaging saya lalu berlalu pergi.
Saya percaya orang seperti saya masih berhak bertemu orang dengan pemikiran terbuka, dan orang yang melihat dengan hati.
Saya percaya juga, saya menulis ini bukan karena saya lagi galau ((:
Saya percaya juga, bahwa saya menulis ini bukan karena kecewa dengan orang-orang yang melihat sekilas lalu beranjak tanpa punya nyali untuk ‘menawar’ ((:

Saya percaya, tulisan saya yang terlalu panjang ini, akan membuat bosan orang yang membacanya, tapi di ujung sana ada yang tersindir, lagi ((:

Ah, sudah jam 7 malam, sampai disini saja omelan sore ini.
Saya hanya si bawel yang sedang ingin ngomel, seperti biasa. Harap dimaklumi ((:

Sapporo, 10 Januari 2014

Deasy, yang sebel menghadapi orang-orang yang melulu menilai tentang kulit, bungkus, kemasan, …………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s