blog, days, family, heart

Marah, wajarkah? – Dsy

Saya penasaran, apa ada yang mengalami seperti saya, ngambek dan marah saat berhadapan dengan musibah?
Apa cuma saya yang merasakan hal ini?

7 tahun yang lalu ketika orangtua saya meninggal, saya seperti orang yang marah pada takdir, atau mungkin pada Allah..
Saya merasa apa yang saya sayangi direnggut tanpa memberi peringatan apa-apa, dan saya belum siap. Yah, siapa sih yang siap menghadapi kematian?

7 tahun yang lalu, saya merasa marah, ngambek, sekian lama saya berhenti memandangi foto beliau, saya bahkan tak sudi melihat handphone saya, lalu menghapus semua history beliau di hape saya, menghindari semua topik pembicaraan yang akan melibatkan beliau, tidak mau sama sekali berkunjung ke makam beliau (dan ini lama sekali, setidaknya 3 tahun, saya tidak bernyali melirik makam beliau yang hanya berjarak sepuluh langkah dari rumah kami, konyol sekali rasanya, karena saya merasakan emosi yang tak biasa membayangkan beliau yang kemaren masih mengobrol bersama saya, kini terbujur kaku di dalam sana, tanpa saya ada kesempatan lagi, bahkan untuk melihatnya), dan yang paling parah, saya ngambek tidak mau mendoakan beliau, beberapa saat, konyol sekali..

Doa khusus yang biasanya saya hafal diluar kepala utk orang yang sudah meninggal, doa yang sudah saya tahu sejak lama, tapi ketika harus mengucap doa itu untuk keluarga sendiri, doa itu seperti tidak rela saya bisikkan setiap selesai shalat, tidak lain karena perih kehilangan itu masih terasa, dan saya masih ingin menganggap beliau masih ada, saya masih tidak rela melepas beliau dan menerima kenyataan bahwa beliau sudah tiada..

Kebodohan yang aneh, kog sampai ngambek sama Allah, mau protes juga percuma..

Sekian waktu kemudian, saya belajar berdamai dengan kenyataan, mengunjungi makam beliau, membahas beliau lagi dalam beberapa pembicaraan, perlahan saya mulai rutin lagi mengirimkan doa untuk beliau, mudah-mudahan Allah mengampuni kekhilafan saya dan menyampaikan doa itu pada beliau di alam sana, saya merasa jadi anak yang tidak berbakti ketika ego saya menghalangi doa saya untuk beliau..

Belajar dari pengalaman pahit itu, seharusnya tidak ada lagi cerita saya ngambek berdoa, harusnya. Tapi nyatanya saya kembali di fase itu, marah, dan ingin protes.
Sekarang lidah saya kembali kelu untuk mengucap doa itu, ketika orangtua saya yang lain dijemputNya. Hampir sebulan, dan sepertinya saya masih diliputi emosi yang tak wajar. Masih merasa tidak ikhlas, karena kehilangan ini terlalu mengejutkan buat saya.

Bagaimana sosok yang biasanya tiap hari menelpon saya, suatu sore tiba-tiba terbujur kaku di kampung sana.
Bagaimana suara yang sampai kemaren sorenya masih saya dengar, ketika mengungkapkan rindunya dan menangis menanti saya pulang, sekarang suara itu sudah tidak ada.
Bagaimana mungkin wajah itu tidak akan pernah saya lihat lagi. Sosok yang menghambur memeluk saya dengan tangis, seperti lebaran lalu saat saya akhirnya pulang setelah 2 tahun mengembara..

Bagaimana beratnya bagi saya sekarang, bahkan untuk membuka sekotak benang dan jarum sulam, yang sudah saya kumpulkan dan saya janjikan akan saya bawa pulang, kesamaan hobi yang biasanya jadi salah satu hal yang membuat kami berdua betah berhari-hari duduk di teras rumah, menyulam bersama, dan saling berbagi kreatifitas dan ide baru..
Bagaimana sekian rencana saya bersama beliau saat saya pulang nanti, rencana yang sudah saya rancang, sekarang tinggal rencana, yang bahkan membayangkannya pun membuat saya benci, dan marah.

Tidak, saya tidak sedih lagi, mungkin saya sudah tidak sedih lagi, tidak menangis, tidak lagi membasahi bantal saya dengan airmata, sekarang saya hanya merasa, ada kemarahan, di dalam hati saya.
Kemarahan yang mengelukan lidah saya untuk kembali berdoa, dan hanya mengantarkan saya menjauh dari kepahitan.
Saya mau protes, mau ngambek, tapi sama siapa?
Masa iya marah sama Allah?

Apa cuma saya yang mengalami ini?

Sapporo, 21 January

Deasy
Dalam lamunan, dibalik jendela, melihat salju yang turun deras..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s