blog, days, family

I am ‘cheese’-ing (Part 2) – Dsy

Ini sambungan cerita dua minggu yang lalu tentang proses saya belajar bikin keju. Lengkapnya saya tulis di I am ‘cheese’-ing (Part 1)
Jadi ceritanya, rasa penasaran karena percobaan pertama gagal bukannya berkurang, malah bertambah. Apalagi karena sudah tahu salahnya dimana 😀
Jadi sepulang dari Nagoya dan sedikit ada waktu, mulailah kami bereksperimen lagi. Kali ini agak ragu, takut tidak bisa menemukan susu yang dibutuhkan, karena rata-rata susu di Jepang adalah susu yang sudah dipasteurisasi. Tapi saya sih yakin saja, karena Hokkaido itu lumbungnya susu, jadi mustahil susu ini tidak ada di pasaran.
Berbekal rasa penasaran, tadi saat mampir ke AEON, sepulang dari dokter (yah, saya sekarang sedang rajin bolak-balik ke dokter, long story!), kami menemukan susu yang tidak dipanaskan di suhu tinggi. Jika sebelumnya susunya dipanaskan hingga 130 C selama 2 detik, sekarang kami beralih ke susu yang dipanaskan di suhu 65 C selama 30 menit. Bedanya, susu kali ini harganya hampir dua kali lipat, jadi agak takut kalau salah lagi, berat di ongkos, hehehe..
Akhirnya kami membeli 2 liter saja, rencananya dicoba 1 liter dulu, kalau sukses baru lanjut lagi (namanya juga hemat, hehehe)
Sepulang dari lab tadi maghrib, sambil menunggu suami pulang, saya mulai menyiapkan semuanya..
Hasilnya alhamdulillah seperti yang diharapkan ^^
Dan karena moodnya bagus, jadi sempat foto-foto, dan lengkapnya saya posting di album belajar bikin keju ini.
Sebagai gambaran, keju mozarella seberat 60-an gram biasanya kami beli dengan harga 400an yen, hmm, mahal ya, makanya jadi pengen bikin sendiri. Sekarang, dari 1 liter susu, bisa dapat 130an gram mozarella, such a big ball of cheese, I am a happy woman!
Melihat saya berhasil, ada yang gak mau ketinggalan, hehehe. Jadi setelah berhasil membuat 130an gram mozarella dari 1 liter susu, sekarang suami sedang sibuk dengan keju cheddar. Sayang kalau keju cheddar butuh semingguan, jadi akan saya update lagi nanti. Tapi setidaknya, curd nya sesuai yang diharapkan, tinggal menunggu proses fermentasi dan hasilnya nanti seperti apa.
Sekian update kali ini.
Sapporo, 29 September 2015
Deasy, yang ‘dipaksa’ bikin pizza besok pagi, karena sudah bisa bikin keju mozarella sendiri ^^
blog, days, family

I am ‘cheese’ing (Part 1) – Dsy

Mari belajar membuat keju, itu judul project bulan ini, dikarenakan saya dan suami adalah penggila pizza dengan topping keju yang melimpah 😀 Berawal dari mahalnya harga keju (terutama mozarella), jadi kepikiran belajar membuat keju sendiri.

Proses pertama sudah dimulai suami beberapa minggu lalu. Karena belum punya tablet rennet, suami memakai koagulan pengganti (bisa cuka atau air asam), dan akhirnya dipakai air lemon. Proses hingga membuat curd dan whey terpisah masih berhasil, namun kelanjutannya gagal, dan waktu itu belum tau penyebabnya apa, hmm..

Karena penasaran, saya memutuskan pakai rennet, mungkin ada yang ingat beberapa hari yang lalu saya posting kalau rennet saya sudah sampai, dan baru sempat malam ini mempraktekkannya.

Teori sudah hafal luar kepala, bahannya lengkap, dan siap di dapur (2.5 jam, minimal, katanya).

Jam 19:00 tadi saya mulai prosesnya..

Semangat, sampai curd dan whey terpisah masih lancar. Rencananya whey ini saya simpan untuk buat ricotta cheese..

Curd-nya saya olah, niatnya tentunya mozarella, dan saya ikutilah step step yang sudah saya pelajari..

1.5 jam kemudian, tangan saya sudah panas karena dough atau curd ini harus saya knead (hmm, knead, uleni kali ya, bahasa kita-nya).

Kebayang tangan saya harus menguleni hingga curd tadi jadi berwujud mozarella..

1 jam kemudian, gak jadiiiii..

Saya frustrasi, hahaha, kog gagal, tadi kayanya lancar-lancar aja..

Akhirnya saya menyerah, (bekas) curd tadi saya padatkan, entah mau jadi apa, siapa tau bisa jadi hard-cheese, hahaha, dream on..

Lalu suami bilang, apa kita salah pakai susu ya, buat bikin keju gak boleh pakai susu ultra lho..

*saya baru tau, gak ada tuh di teori yang saya baca, hahaha..

Lalu buru-buru liat di kemasan susu yang kami beli, dan voila! ini bukan susu ultra biasa, tapi ultra-pasteurised, alias dipanaskan di suhu 130 C selama 2 detik 😀 😀 😀

Jadi saya baca lagi tentang efek memakai UH utk membuat keju, eh taunya bener, buat bikin keju gak boleh pakai UH, apalagi UHT, hahaha, katanya perbedaan signifikan akan kelihatan setelah curd kita panaskan (iya sih, curd saya aneh setelah dimasukkan ke microwave).

Ya mana berhasil ya, hahaha, aduh sebenernya nangis, udah mubazir susu setengah galon, tangan panas, gagal, eh taunya salah dari bahan dasar, huehehe..

Tadinya mau share proses belajar bikin keju sambil foto langkah-langkah dari awal, tapi karena sibuk kerja jadi lupa, dan karena sendirian, tim dokumentasi gak ada, apalagi pas gagal, malah makin gak mood foto-foto, hahaha..

Lain kali akan didokumentasikan deh, sambil belajar membuat keju lain, setidaknya teori dulu, sekalian belajar keju-keju lain yang selama ini bikin tipis kantong 😀 😀

Sekian curhatan yang diketik dengan tangan yang masih panas.

Sapporo, 13 September 2015

Deasy, yang makin semangat nyari ‘ilmu sampingan’

blog, days, future

Saya dipelototin ibu-ibu :D – Dsy

Judulnya emang lucu,

tapi itu yang saya alami kira-kira sebulan yang lalu, ketika berkunjung ke salah satu keluarga saat lebaran..

Kira-kira kenapa saya dipelototi? Tak lain karena sang Ibu menganggap saya mengajari sesuatu yang menyesatkan buat anaknya 😀

Cerita bermula ketika si Ibu bertanya pada saya di hadapan anaknya, tentu niatnya untuk berbagi motivasi, bagaimana caranya agar bisa sukses (sementara saya sendiri masih belum merasa sampai di posisi itu, hmm, mungkin krn saya sedang kuliah di luar negeri).

Ya saya jawab semampu saya, saya hanya bercerita sesuai apa yang saya alami, dan berbagi apa yang kira-kira saya kurang senangi dalam proses saya belajar, berharap hal ini tidak dialami oleh anaknya si Ibu ini..

Saya katakan begini, sederhana saja, kalau mau sukses di suatu bidang, yang pertama tentu bidang itu harus kita sukai, lalu harus fokus mempelajarinya, mendalami sehingga akhirnya bisa menguasai bidang itu.

Sederhananya lagi, saya katakan, kita tidak harus ahli di semua bidang. Buat apa di kepala kita yang hanya seukuran segini kita memaksa memasukkan semua hal, Ilmu eksakta, Ilmu sosial, Ilmu bahasa, ini, itu, sampai mungkin kepalanya sumpek dan penuh 😀

Contohnya saya waktu sekolah, saya suka hanya pada beberapa mata pelajaran, pada dasarnya saya suka matematika,  fisika dan kimia, karena 3 bidang ini seperti saling terkait, memahami yang satu maka otomatis yang lain akan mudah dikuasai. Dan dengan senang hati saya mengeliminasi banyak mata pelalajaran lain termasuk biologi (yang sebenarnya juga wajib dikuasai siswa IPA). Tapi apa daya, hafalan jangka panjang saya yang lemah, kekurangan minat, dan saya tidak mau menyiksa kepala saya dengan beragam konsep biologi, spt juga ilmu-ilmu lain, yang saya yakin tidak akan saya perdalam, dan rasanya tidak begitu saya butuhkan, membuat saya dengan senang hati menjaga jarak dari pelajaran-pelajaran ini, hehehe.

Apalagi mata pelajaran IPS, sebut saja Akuntansi, yang sukses membuat saya menangis darah karena kepala saya tidak bisa mencerna bahkan konsep debit dan kredit pun saya tak pernah pahami :D. Belum lagi sejarah, dan ilmu sosial lain. Jangan tanya bahasa Indonesia, itu kelemahan utama saya, karena saya memang lemah di bahasa, kecuali bahasa Inggris yang memang saya (paksa) sukai demi kecemerlangan di masa depan 😀 😀 😀 Menyadari kelemahan itu, saya sadar, buat apa saya memaksa diri? Saya tidak mau pergi ke sekolah dengan stress membayangkan akan belajar akuntansi, haha, dan setiap hari saya menghipnotis diri sendiri, “tenang dsy, akuntansi ini tinggal 2 bulan lagi, setelah itu lupakan, lupakan” 😀 😀

Nah, kembali ke si Ibu tadi, beliau heran dengan jawaban saya, katanya, “Masa iya dsy bilang gitu sama anak kecil, ntar mereka milih-milih lagi, kan nilai rapornya bisa rendah nanti kalau yang bagusnya cuma satu dua”.

Ya karena saya bukan seorang guru, tapi hanya mantan murid, saya memberi logika sederhana saja, “Bu, masa ibu tega maksa anaknya menguasai semua bidang, sementara tempat dia belajar saja, gurunya hanya ahli di satu bidang. Kenapa sih kita egois memaksakan anak kita untuk memahami semua hal secara berbarengan, lalu menuntut dia menjadi juara dengan standar semua mata pelajaran harus sempurna? Itu namanya membunuh bakatnya pelan-pelan, apalagi keterpaksaan itu membuat bakat dia yang sebenarnya jadi tidak terasah. Lagian orang bisa stress pastinya kalau dipaksa terus-terusan.”

Saya memberi logika sederhana lain, jika si anak dipaksa menguasai, misal 10 mata pelajaran dan harus membagi 10 jam harinya untuk belajar itu semua, lalu masing-masing hanya dikuasai maksimal 50 persen, tidakkah terbayangkan jika dia hanya diminta memahami 1-2 pelajaran, waktu 10 jam akan sangat maksimal. Bisa saja, hanya butuh 5-6 jam untuk si anak menguasainya. Sisanya, si anak bisa menenangkan kepala, dan gak akan stress karena kebanyakan beban. Andai seperti itu, mungkin nanti, di usia 20 tahun kita sudah mendapati seorang anak yang ahli di satu bidang, sangat mungkin 🙂

Diam-diam si Ibu melotot lagi, sambil memberi saya kode, “ssst, jangan ngomong gitu, nanti adeknya milih-milih belajarnya”

Ya Tuhan, apa sih yang kita takutkan dari anak yang memilih? Bukankah itu artinya dia tahu dimana minat dan potensinya?

Buat apa memaksakan anak yang minat akuntansi harus juga ahli di kimia, sementara dia tidak berminat? Demi nilai 10 di rapor? Lalu kalau nilainya 10 mau apa? Emang kalau anaknya stress bisa diobati pakai angka 10? Kalau tidur malam bisa nyenyak kalau rapor yang isinya nilai 10 itu dijadiin bantal? *aduh logikanya gak nyambung euy 😀

Hmmm, andai saya dulu bisa memilih, mungkin sejak jaman sekolah menengah, saya sudah duduk hanya di sedikit mata pelajaran saja. Karena yang lainnya saya jalani hanya karena terpaksa, hehehe, kalaupun rapornya memuaskan, saya yakinkan itu cuma demi nilai, setelah ujian, jangan harap ada ilmu-ilmu itu yang tersisa di kepala saya 😀 😀 Dan bukankah yang namanya pendidikan itu bukan apa yang tertera di rapor, tapi yang membekas di kepala. Nyatanya skrg sia-sia kan, memaksa saya dulu nangis-nangis mempelajari akuntansi? :d :d

Alhamdulillahnya, walaupun tidak sesegera yang diharapkan, akhirnya saya bisa memilih, dan tau maunya saya, dan karena saya menjalani pilihan saya, maka saya menjalaninya dengan senang hati, dan segala konsekuensi dan resikonya tentu saya akan tanggung sendiri. Saya tidak akan menyalahkan orang lain, semisal nanti saya gagal. Lain cerita kalau dulu saya dipaksa, tentu kegagalan akan saya tumpahkan sesalnya pada yang memaksa saya.

Enaknya lagi, menjalani sesuatu sesuai minat, saya menjalani dengan senang hati. Walaupun pusing (namanya belajar, sesuka apapun akan tetap berat), tapi saya senang. Lelah sepulang kuliah tapi hati tetap senang. Harus pergi sana-sini dan menghadapi cobaan juga saya anggap hiburan, sekali lagi, karena saya menjalani apa yang saya suka.

Pada akhirnya saya berpendapat, hidup yang paling menyenangkan adalah menjalani hidup sesuai minat dan potensi kita, mengikuti kata hati, dan belajar apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup ‘ala kita sendiri’.

Jadi, buat para orangtua, kenapa sih harus khawatir anaknya nilainya biasa saja, siapa tahu anaknya punya minat di bidang lain. Maka tugas kita bukan mendesak dia mempelajari semua hal, tapi membimbingnya agar menemukan passionnya, lalu memberi jalan untuk passion itu, sisanya, saya harap yang kita temui adalah anak-anak yang berbahagia mengejar mimpinya 🙂

Sekali lagi, saya udah pasrah dipelototin ibu-ibu karena setiap mereka ngajak ngobrol tentang sekolah, jawaban saya akan selalu sama, hahaha. Maklum, saya hanya seorang mantan siswa, bukan seorang guru di sekolah, jadi mungkin cerita ini dianggap bukan motivasi yang positif untuk anak-anak sekolahan 😀 Tapi mudah-mudahan, dengan memilih sesuai hati, menjalani hidup akan terasa lebih ikhlas

Tertanda,

Deasy, yang akhir-akhir ini serasa diberi jalan untuk menjalani passion saya, dan sedang menyiapkan hati untuk dipelototin emak, karena saya mungkin akan memilih ‘sesuatu yang tidak mereka bayangkan dan harapkan untuk saya pilih’, hadeuh, hahaha, udah ah, mari mengolah data gempa, ini hanya selingan 😀 😀

blog, days

Episode “Belajar Hidup” – Dsy

Ambisius, tentukan target dan kejar target, gak pernah puas, pantang kalah, selalu bernafsu jadi yang terbaik, kadang mengukur kepuasan diri dari pencapaian orang lain, gila kerja, kurang perhitungan, sering lupa diri kalau sudah serius, impulsif dan gampang terbawa arus, gila belanja, kurang perhitungan, egois, ngeyelan, susah dikasih tau, merasa paling benar sendiri, kareh angok (bahaso urang awak), mada (kecek ari), tangka (kecek ama), dan banyak lagi..

Duh, banyak banget sifat negatif saya 😀 😀

Mungkin sebagian sifat itu masih ada..

Mungkin sebagian sifat itu ada yang sudah tertinggal

Dilihat dari semuanya

Ada yang mengerikan..

Ada yang memang dibutuhkan dalam hidup..

Ada yang harus dipertahankan..

Ada yang harus diubah..

Ada yang harus diperbaiki..

Aduuuh, banyak PR ternyata 😀 😀

Sapporo, 17 Mei 2015

*sambil menatap tumpukan kerjaan dan mengumpulkan mood bekerja (di hari libur yang gak terasa seperti hari libur), huehehe…

blog, days, heart

Aku Kembali – dsy

Mengharukan, bagaimana waktu berlalu begitu cepat, apalagi ketika melihat postingan terakhir blog ini, yaitu tahun lalu..

Ah, kemana komitmen untuk ngeblog setidaknya satu postingan sebulan, yang dirancang tahun lalu?

Melihat waktu sungguh sudah jauh berubah, apalagi keadaan saya, berubah jauh lebih dari yang saya bayangkan, well, walaupun ini perubahan yang sudah saya ‘rencanakan’ jauh-jauh hari..

Postingan saya tahun lalu lebih banyak tentang hati, kegalauan, menanti dan mengharap jodoh. Siapa sangka sekarang, setahun kemudian, saya disini menulis, sebagai istri dari seorang lelaki yang amat sangat saya cintai..

Yah, saya tiba-tiba saja sudah jadi istri..

DSC_0080 2

Dan kekagetan itu masih sering saya rasakan, kala terbangun pagi hari mendapati saya sedang dalam pelukan hangat seorang lelaki, atau ketika suatu sore mendapati saya menghambur ke pelukannya ketika saya lelah..

Ah, bagaimana waktu berlalu terlalu cepat, dan mengubah banyak hal..

Baiklah, sekarang mood menulisnya sudah kembali lagi..

Well, mood itu tidak benar-benar hilang sih, karena saya beberapa kali masih menulis, walaupun tidak dipublish disini. Tapi diakui, saya memang jauh lebih produktif di kala galau dan sedih, ketimbang saat bahagia, hahaha…

Baiklah, mari kembali menulis, berbagi, dan berbicara dengan kata

30 April 2015

dari Sapporo yang hangat, dan sakura yang sedang mekar..

blog, days, family, friends, heart

Hati-hati dengan doamu!!! – Dsy

Kata-kata itu yang sekarang sering aku bisikkan pada diri sendiri..
Karena doa itu dahsyat adanya, kekuatannya tidak ada yang bisa melawan, apabila Allah sudah berkata “iya” pada apa yang kita minta, luar biasa dahsyatnya..

Bukan sok tau, atau sok alim, tapi itulah yang aku alami (atau aku setidaknya aku pikir, pernah/sedang aku alami)

Berdoa, siapa yang tidak suka melakukannya, karena pada dasarnya kita adalah makhluk peminta, selalu merasa ingin ini, mau itu, susah sekali merasa puas dan cukup..

Berdoa yang baik tentu saja bagus, apalagi jika doa itu dijawab Allah, kurang bahagia apa lagi kita? Rasanya ingin berteriak hingga seluruh dunia tau, “Hey, doaku sudah dijawab Allah!!!”

Berdoa, adalah hobbyku, jika aku bisa bilang begitu..
Aku bisa disebut pengemis, perengek, suka meminta apa saja..
Salah satunya (ah, terlalu sederhana jika menyebutnya,”salah satunya”), hehehe..
Tapi ya, salah satunya, adalah orang yang saat ini duduk disebelahku, lelaki yang sekarang mendampingiku, memarahiku kalau aku lalai dalam tugas, memaksaku bangun lebih pagi..
Ya, dia adalah salah satu hal yang membuatku ingin berteriak ke seluruh dunia, “Hey, doaku sudah dijawab Allah!!!”

Ya, setelah sekian “tidak” yang dengan senyum indah Allah jawab padaku, setelah sekian kata “tunggu” yang Allah tulis di hidupku, akhirnya dia menitipkan sebuah “iya”, “Iya dsy, sekarang waktunya”

Dan voila!! disinilah aku sekarang, disamping lelaki yang hanya memberiku waktu 10 menit untuk mencoretkan tulisan ini, karena saat ini aku sedang dalam masa romusha, dipaksa menulis sekian ratus kata setiap hari,agar paperku yang keteteran bisa segera tuntas..
Ah, kepanjangan pembukaannya, bisa-bisa 10 menitku habis begitu saja..

Ya begitulah, lagi-lagi aku katakan, hati-hati dengandoamu!!!

Kenapa? Simpel! Karena kita tidak tahu kapan doa kita akan dijawab Allah, maka hati-hatilah mengucapkan keinginan, apalagi jika efeknya tidak bisa kita bayangkan..

Kenapa aku menulis begini? Kenapa malah harus hati-hati dengan doa?
Karena pada suatu pagi, beberapa masa yang lalu, aku berdiri mematung, untuk sebuah kejutan, kejutan yang membekukanku, yang membuat aku tertegun, “Ya Allah, masa ini jawaban doaku? Kenapa sedahsyat ini hempasannya? Aku hanya sedang kesal waktu berdoa begitu, aku hanya sedang terluka saat berdoa begitu, aku hanya, Ah Allah, tolong yakinkan kalau ini bukan jawaban doaku, aku takut”

Begitulah..
Begitulah efek ketika doa yang kita ucapkan bukan doa yang baik..

Maka Hati-hatilah dengan doamu..

Sampai sekarang aku tidak tahu, apakah ‘tsunami’ ini adalah memang jawaban doaku yang sedang terluka, teraniaya kala itu, ataukah memang sudah takdirnya. Yang jelas, mulai sekarang, aku akan berhati-hati membisikkan kata pada Allah, apalagi ketika aku sedang menangis dalam sujud, apalagi ketika aku sedang terluka, apalagi ketika tidak ada kata-kata lain yang bisa aku kirimkan pada Allah, selain, “Ya Allah, dsy gak sanggup, sakit banget rasanya, tolong, tolong Ya Allah”

Catatan untuk diri sendiri: Dsy, mulai sekarang, hati-hatilah berdoa..

Dan yang lebih penting, hati-hatilah dengan sikapmu..
Kenapa?
Karena..
Karena ketika sikap kita, bisa jadi, melukai hati seseorang,dan di kala itu, ketika dia sudah tidak sanggup lagi menerima sikap kita, maka,waspadalah, ketika dia memilih Allah untuk tempatnya mengadu..

Kita tidak pernah tau, ketika kita mengalami suatu kejadian yang kurang menyenangkan, apakah itu memang sudah jalannya, ataukah, ada jawaban doa seseorang yang terjawab disana, seseorang yang bersandar pada Allah, saat dia teraniaya oleh kita..

Jadi, selain berpikir tentang hati-hati dengan doamu, akupikir lebih jauh, ada kehati-hatian yang lebih ingin aku catat baik-baik, “Hati-hati dengan mulutmu, hati-hati dengan sikapmu”

Jangan sampai, jangan sampai ada doa orang yang dijawab Allah karena teraniaya oleh sikap atau kata-kata kita..

Sungguh tak terbayangkan..
Jangan sampai kita menjadi alasan orang lain terluka, lalu menangis dalam sujud, dan mengadu pada Allah..
Jangan sampai..

Maka..
“Hati-hati dengan mulutmu, Hati-hati dengan sikapmu”

Sapporo, 6 November 2014

Deasy,
yang mendadak kepikiran hal ‘sederhana’ ini, disela kesibukan menulis paper, dalam curi-curi waktu yang sangat minim, dalam pengawasan ketat suami karena cuma dikasih 10 menit untuk “curhat” disini..

blog, days, future

Apa cuma saya? – Dsy

Saya pikir cuma saya ––

Kadang ketika bercerita dan mendengar cerita orang lain, dan tiba-tiba mengungkapkan apa yang kita rasakan dan mendengarkan versi orang tersebut, kemudian terpikir, “ah, ternyata bukan cuma saya”

Itulah yang saya rasakan kemaren sore, ketika mengobrol dengan seorang teman, yang mendadak membuat saya lega, sekaligus berpikir, ah, saya pikir cuma saya, ah ternyata bukan cuma saya, ah, bla bla bla…

Berawal dari kepanikan saya yang meningkat akhir-akhir ini, karena mendadak jadwal saya ‘mempertanggungjawabkan’ hasil riset saya semester ini dimajukan beberapa minggu lebih awal.
Semester ini baru dimulai dua hari yang lalu yaitu 1 April, normalnya saya baru akan ‘disidang’ sekitar minggu pertama atau kedua Juli. Mengejutkan karena nama saya tercantum di deretan awal, yaitu minggu terakhir Mei.
Kaget, membayangkan, akhir Mei berarti 7 minggu lagi.
Apa yang bisa saya hasilkan dalam 7 minggu? Saya belum punya hasil apa-apa, sementara hasil sebelumnya sudah saya laporkan selengkap-lengkapnya 2 bulan yang lalu. Dan baru saja hasil itu saya submit, sehingga sekarang saya ketiadaan bahan. Terbayangkan, bagaimana saya nanti, apa yang harus saya laporkan, arghhh..
Panik, tentu saja.
Saya berasa mau gila, karena sejak dua bulan yang lalu saya mentok dan tidak menghasilkan apa-apa. Sudah dua bulan ini mencari ide sana sini, membaca entah berapa kali tulisan rujukan saya, sampai kertasnya lusuh dan penuh dengan coretan saya, tapi tetap tidak ada solusi, dan saya terlalu malu untuk mengakui bahwa dua bulan ini saya gagal, memalukan!

Saya pikir saya ini seorang psiko, orang gila, atau apa lah namanya, karena saya tiba-tiba memikirkan kemungkinan paling sadis, saya merasa tiba-tiba ingin bunuh diri -____-
Iya, konyol kan, saya merasa ingin mati saja, seperti mati bisa membuat saya mengakhiri tekanan berat ini..
Di kala lain, setelah melaporkan hasil penelitian, setelah zemi, pernah terpikir betapa memalukannya saya, padahal kalau saya sedikit lebih keras, pasti hasilnya akan lebih baik..
Andai saya bekerja lebih keras, mengurangi kemalasan, bla bla bla, berasa ingin bunuh diri sajaaaa….

Dan itu tidak sekali, pernah sekali dua tiga empat kali saya memikirkan itu, apa saya loncat aja dari gedung ini? Argh, benar, kuliah S2 dan S3 itu berat, berat sekali (:

Tapi kemudian saya berpikir ulang, semua pasti berlalu, stress itu pada ujungnya akan menemukan jalan, dan sudah sering saya mengalami itu (:

Pernah saya menangis berhari-hari saking paniknya, berharap saya mati saja, atau setidaknya berpikir, saya pulang saja ke Indonesia, mengakhiri dengan cara saya, biarlah saya pulang dalam keadaan kalah, saya tidak kuat!!!
Tapi, akhirnya tetap saja, saya melakukannya, dengan baik..

Ketika menerima ijazah S2 september lalu, saya berulang kali terkaget-kaget, dengan bagaimana seringnya saya berpikir untuk berhenti saja karen tidak sanggup, tapi nyatanya, semuanya terlewati juga (:

Jadi, seberat apapun hari ini, saya yakin akan bisa saya lewati, saya 2.5 tahun lagi, dengan memegang ijazah PhD saya, akan terkaget lagi, sambil tersenyum dan bersyukur, bahwa saya gak jadi loncat dari gedung ini, pada sebuah kepanikan di masa lalu ((:

Sapporo, 3 April 2014

Deasy,
yang sedang panik untuk gakkai akhir April, Agustus, dan paper, dan revisi, dan data, dan…
Argh…

*saat membaca ini lagi 1 Oktober 2016 nanti, berharap saya tersenyum bangga pada diri sendiri karena berhasil mengalahkan semua halangan itu (: