blog, days, family

I am ‘cheese’-ing (Part 2) – Dsy

Ini sambungan cerita dua minggu yang lalu tentang proses saya belajar bikin keju. Lengkapnya saya tulis di I am ‘cheese’-ing (Part 1)
Jadi ceritanya, rasa penasaran karena percobaan pertama gagal bukannya berkurang, malah bertambah. Apalagi karena sudah tahu salahnya dimana 😀
Jadi sepulang dari Nagoya dan sedikit ada waktu, mulailah kami bereksperimen lagi. Kali ini agak ragu, takut tidak bisa menemukan susu yang dibutuhkan, karena rata-rata susu di Jepang adalah susu yang sudah dipasteurisasi. Tapi saya sih yakin saja, karena Hokkaido itu lumbungnya susu, jadi mustahil susu ini tidak ada di pasaran.
Berbekal rasa penasaran, tadi saat mampir ke AEON, sepulang dari dokter (yah, saya sekarang sedang rajin bolak-balik ke dokter, long story!), kami menemukan susu yang tidak dipanaskan di suhu tinggi. Jika sebelumnya susunya dipanaskan hingga 130 C selama 2 detik, sekarang kami beralih ke susu yang dipanaskan di suhu 65 C selama 30 menit. Bedanya, susu kali ini harganya hampir dua kali lipat, jadi agak takut kalau salah lagi, berat di ongkos, hehehe..
Akhirnya kami membeli 2 liter saja, rencananya dicoba 1 liter dulu, kalau sukses baru lanjut lagi (namanya juga hemat, hehehe)
Sepulang dari lab tadi maghrib, sambil menunggu suami pulang, saya mulai menyiapkan semuanya..
Hasilnya alhamdulillah seperti yang diharapkan ^^
Dan karena moodnya bagus, jadi sempat foto-foto, dan lengkapnya saya posting di album belajar bikin keju ini.
Sebagai gambaran, keju mozarella seberat 60-an gram biasanya kami beli dengan harga 400an yen, hmm, mahal ya, makanya jadi pengen bikin sendiri. Sekarang, dari 1 liter susu, bisa dapat 130an gram mozarella, such a big ball of cheese, I am a happy woman!
Melihat saya berhasil, ada yang gak mau ketinggalan, hehehe. Jadi setelah berhasil membuat 130an gram mozarella dari 1 liter susu, sekarang suami sedang sibuk dengan keju cheddar. Sayang kalau keju cheddar butuh semingguan, jadi akan saya update lagi nanti. Tapi setidaknya, curd nya sesuai yang diharapkan, tinggal menunggu proses fermentasi dan hasilnya nanti seperti apa.
Sekian update kali ini.
Sapporo, 29 September 2015
Deasy, yang ‘dipaksa’ bikin pizza besok pagi, karena sudah bisa bikin keju mozarella sendiri ^^
blog, days, family

I am ‘cheese’ing (Part 1) – Dsy

Mari belajar membuat keju, itu judul project bulan ini, dikarenakan saya dan suami adalah penggila pizza dengan topping keju yang melimpah 😀 Berawal dari mahalnya harga keju (terutama mozarella), jadi kepikiran belajar membuat keju sendiri.

Proses pertama sudah dimulai suami beberapa minggu lalu. Karena belum punya tablet rennet, suami memakai koagulan pengganti (bisa cuka atau air asam), dan akhirnya dipakai air lemon. Proses hingga membuat curd dan whey terpisah masih berhasil, namun kelanjutannya gagal, dan waktu itu belum tau penyebabnya apa, hmm..

Karena penasaran, saya memutuskan pakai rennet, mungkin ada yang ingat beberapa hari yang lalu saya posting kalau rennet saya sudah sampai, dan baru sempat malam ini mempraktekkannya.

Teori sudah hafal luar kepala, bahannya lengkap, dan siap di dapur (2.5 jam, minimal, katanya).

Jam 19:00 tadi saya mulai prosesnya..

Semangat, sampai curd dan whey terpisah masih lancar. Rencananya whey ini saya simpan untuk buat ricotta cheese..

Curd-nya saya olah, niatnya tentunya mozarella, dan saya ikutilah step step yang sudah saya pelajari..

1.5 jam kemudian, tangan saya sudah panas karena dough atau curd ini harus saya knead (hmm, knead, uleni kali ya, bahasa kita-nya).

Kebayang tangan saya harus menguleni hingga curd tadi jadi berwujud mozarella..

1 jam kemudian, gak jadiiiii..

Saya frustrasi, hahaha, kog gagal, tadi kayanya lancar-lancar aja..

Akhirnya saya menyerah, (bekas) curd tadi saya padatkan, entah mau jadi apa, siapa tau bisa jadi hard-cheese, hahaha, dream on..

Lalu suami bilang, apa kita salah pakai susu ya, buat bikin keju gak boleh pakai susu ultra lho..

*saya baru tau, gak ada tuh di teori yang saya baca, hahaha..

Lalu buru-buru liat di kemasan susu yang kami beli, dan voila! ini bukan susu ultra biasa, tapi ultra-pasteurised, alias dipanaskan di suhu 130 C selama 2 detik 😀 😀 😀

Jadi saya baca lagi tentang efek memakai UH utk membuat keju, eh taunya bener, buat bikin keju gak boleh pakai UH, apalagi UHT, hahaha, katanya perbedaan signifikan akan kelihatan setelah curd kita panaskan (iya sih, curd saya aneh setelah dimasukkan ke microwave).

Ya mana berhasil ya, hahaha, aduh sebenernya nangis, udah mubazir susu setengah galon, tangan panas, gagal, eh taunya salah dari bahan dasar, huehehe..

Tadinya mau share proses belajar bikin keju sambil foto langkah-langkah dari awal, tapi karena sibuk kerja jadi lupa, dan karena sendirian, tim dokumentasi gak ada, apalagi pas gagal, malah makin gak mood foto-foto, hahaha..

Lain kali akan didokumentasikan deh, sambil belajar membuat keju lain, setidaknya teori dulu, sekalian belajar keju-keju lain yang selama ini bikin tipis kantong 😀 😀

Sekian curhatan yang diketik dengan tangan yang masih panas.

Sapporo, 13 September 2015

Deasy, yang makin semangat nyari ‘ilmu sampingan’

blog, days, family, friends, heart

Hati-hati dengan doamu!!! – Dsy

Kata-kata itu yang sekarang sering aku bisikkan pada diri sendiri..
Karena doa itu dahsyat adanya, kekuatannya tidak ada yang bisa melawan, apabila Allah sudah berkata “iya” pada apa yang kita minta, luar biasa dahsyatnya..

Bukan sok tau, atau sok alim, tapi itulah yang aku alami (atau aku setidaknya aku pikir, pernah/sedang aku alami)

Berdoa, siapa yang tidak suka melakukannya, karena pada dasarnya kita adalah makhluk peminta, selalu merasa ingin ini, mau itu, susah sekali merasa puas dan cukup..

Berdoa yang baik tentu saja bagus, apalagi jika doa itu dijawab Allah, kurang bahagia apa lagi kita? Rasanya ingin berteriak hingga seluruh dunia tau, “Hey, doaku sudah dijawab Allah!!!”

Berdoa, adalah hobbyku, jika aku bisa bilang begitu..
Aku bisa disebut pengemis, perengek, suka meminta apa saja..
Salah satunya (ah, terlalu sederhana jika menyebutnya,”salah satunya”), hehehe..
Tapi ya, salah satunya, adalah orang yang saat ini duduk disebelahku, lelaki yang sekarang mendampingiku, memarahiku kalau aku lalai dalam tugas, memaksaku bangun lebih pagi..
Ya, dia adalah salah satu hal yang membuatku ingin berteriak ke seluruh dunia, “Hey, doaku sudah dijawab Allah!!!”

Ya, setelah sekian “tidak” yang dengan senyum indah Allah jawab padaku, setelah sekian kata “tunggu” yang Allah tulis di hidupku, akhirnya dia menitipkan sebuah “iya”, “Iya dsy, sekarang waktunya”

Dan voila!! disinilah aku sekarang, disamping lelaki yang hanya memberiku waktu 10 menit untuk mencoretkan tulisan ini, karena saat ini aku sedang dalam masa romusha, dipaksa menulis sekian ratus kata setiap hari,agar paperku yang keteteran bisa segera tuntas..
Ah, kepanjangan pembukaannya, bisa-bisa 10 menitku habis begitu saja..

Ya begitulah, lagi-lagi aku katakan, hati-hati dengandoamu!!!

Kenapa? Simpel! Karena kita tidak tahu kapan doa kita akan dijawab Allah, maka hati-hatilah mengucapkan keinginan, apalagi jika efeknya tidak bisa kita bayangkan..

Kenapa aku menulis begini? Kenapa malah harus hati-hati dengan doa?
Karena pada suatu pagi, beberapa masa yang lalu, aku berdiri mematung, untuk sebuah kejutan, kejutan yang membekukanku, yang membuat aku tertegun, “Ya Allah, masa ini jawaban doaku? Kenapa sedahsyat ini hempasannya? Aku hanya sedang kesal waktu berdoa begitu, aku hanya sedang terluka saat berdoa begitu, aku hanya, Ah Allah, tolong yakinkan kalau ini bukan jawaban doaku, aku takut”

Begitulah..
Begitulah efek ketika doa yang kita ucapkan bukan doa yang baik..

Maka Hati-hatilah dengan doamu..

Sampai sekarang aku tidak tahu, apakah ‘tsunami’ ini adalah memang jawaban doaku yang sedang terluka, teraniaya kala itu, ataukah memang sudah takdirnya. Yang jelas, mulai sekarang, aku akan berhati-hati membisikkan kata pada Allah, apalagi ketika aku sedang menangis dalam sujud, apalagi ketika aku sedang terluka, apalagi ketika tidak ada kata-kata lain yang bisa aku kirimkan pada Allah, selain, “Ya Allah, dsy gak sanggup, sakit banget rasanya, tolong, tolong Ya Allah”

Catatan untuk diri sendiri: Dsy, mulai sekarang, hati-hatilah berdoa..

Dan yang lebih penting, hati-hatilah dengan sikapmu..
Kenapa?
Karena..
Karena ketika sikap kita, bisa jadi, melukai hati seseorang,dan di kala itu, ketika dia sudah tidak sanggup lagi menerima sikap kita, maka,waspadalah, ketika dia memilih Allah untuk tempatnya mengadu..

Kita tidak pernah tau, ketika kita mengalami suatu kejadian yang kurang menyenangkan, apakah itu memang sudah jalannya, ataukah, ada jawaban doa seseorang yang terjawab disana, seseorang yang bersandar pada Allah, saat dia teraniaya oleh kita..

Jadi, selain berpikir tentang hati-hati dengan doamu, akupikir lebih jauh, ada kehati-hatian yang lebih ingin aku catat baik-baik, “Hati-hati dengan mulutmu, hati-hati dengan sikapmu”

Jangan sampai, jangan sampai ada doa orang yang dijawab Allah karena teraniaya oleh sikap atau kata-kata kita..

Sungguh tak terbayangkan..
Jangan sampai kita menjadi alasan orang lain terluka, lalu menangis dalam sujud, dan mengadu pada Allah..
Jangan sampai..

Maka..
“Hati-hati dengan mulutmu, Hati-hati dengan sikapmu”

Sapporo, 6 November 2014

Deasy,
yang mendadak kepikiran hal ‘sederhana’ ini, disela kesibukan menulis paper, dalam curi-curi waktu yang sangat minim, dalam pengawasan ketat suami karena cuma dikasih 10 menit untuk “curhat” disini..

family, future, heart

Please, hang on… – Dsy

I have been staying here 2.5 years and I still need other 2.5 years to complete everything here..

But now, all I want is fighting as strong as I can and running fast there..

I’m so sorry if I go this far, I’m sorry if I decided to be on this way, I’m deeply sorry..

As for now, all I can say is, please hang on a little longer, I promise, I promise I will come soon, I promise I will fight harder and I will do every possible way to make it all done as soon as I can.
For now, please hang on, for me, for us..

*bunches of Love for whoever Love me, there (:

Sapporo, March 21, 2014

Deasy
*damn why I can’t stop thinking about ‘there’?

blog, days, family, friends

Seksi Sibuk – Dsy

Saya percaya bakat seksi sibuk itu menurun secara genetis, hehe, karena melihat dari keluarga begitu, jadi pasti terbawa-bawa untuk selalu sibuk ini itu..

Sejak kecil saya sudah menyaksikan ibu saya yang sangat aktif di organisasi apapun, beliau adalah event organizer keren, bisa mengajak orang urun-rembug untuk kerjasama, bisa mengkoordinir tanpa sungkan untuk tetap turun tangan..

Sejak kecil saya juga melihat dua kakak saya adalah type orang yang gak bisa diam, selalu aktif di kegiatan apapun, karang taruna, remaja mesjid, pengajian, perayaan 17 agustusan, idul fitri, tak satupun berlalu tanpa kami sekeluarga ikut heboh di kelompok masing-masing, hehehe..

Bahkan nyaris selalu, untuk acara dikampung, rumah kami adalah base-camp acara apapun, hampir 24 jam pintu terbuka, dari anak kecil, remaja hingga dewasa mana ada yang sungkan bertamu atau memanfaatkan apa saja, rumah kami sudah seperti rumah semua orang ((:

Ya, sejak itu saya terpengaruh, berawal dari ikut-ikutan, lambat laun saya juga bagian dari kesibukan itu, bagian dari yang lari sana sini, dari yang dulu disuruh-suruh ini itu oleh para orang tua, hingga kemudian saya aktif sana sini..

Dan itu terbawa hingga bangku sekolah, kuliah, hingga sekarang disini..

Kegiatan OSIS, PMR, pecinta alam, mana pernah saya lewatkan, apalagi kalau sudah ada acara, adrenalin saya naik sekian kali lipat dan saya jadi semangat sekali..

Capek? Pasti, tapi saya akan lebih capek lagi klo melihat suatu acara berjalan tanpa keterlibatan saya, hehehe…

Tahun pertama disini saya udah sibuk sok eksis di PPI, dari jadi artis dadakan manggung klo diundang acara budaya, main angklung, ngajar kelas masak, share ini itu, dan saya menikmati semuanya, seru ternyata, krn disini kita yang jadi perwakilan negara, apa-apa harus serba bisa, dan selalu, saya senang bisa menjadi bagian dari kesibukan semacam itu (:

Tanggung jawab besar waktu saya dipilih sebagai ketua tim Indonesia saat Hokudaisai, full pressure selama 3 bulan mempersiapkan tim Indonesia, membuka stand masakan, dan itu sangat melelahkan, dan menyenangkan di waktu yang bersamaan..
Yang saya dapat apa? gak ada, secara materi, krn semua dana akan dimanfaatkan utk kegiatan PPI, tapi memang bukan itu yang saya cari, saya melakukannya karena saya menikmatinya, dan saya belajar banyak (:

Pertanyaan yang sama pernah saya ajukan pada ibu saya, “ma, udah gak usah sibuk lagi lah ngurus2in acara begitu, perasaan dari aku kecil liat kita kog selalu paling repot ya, klo udah ada acara semuanya udah sibuk masing2, kesana kesini?”

Pertanyaan yang sama muncul ketika saya bisa gak tidur berhari-hari untuk menyiapkan acara, rapat berjam2, pertanyaan, “kog saya lagi ya, yang mau repot kerja ini itu”..

Bulan lalu kami disini menggelar acara lumayan besar, dan lagi, awalnya saya memilih tidak terlibat, ingin mencoba jadi penonton saja..
Tapi entah kenapa, entah jebakan dari mana, kemudian saya tetap saja jadi ‘seksi sibuk’ yang terlibat ini itu, berhari-hari gak tidur, mondar-mandir sana sini..
Dan selalu sama, yang saya dapatkan mungkin bukan apa-apa, tapi kepuasan bahwa saya menjadi bagian sebuah team-work yang menghasilkan sesuatu, kepuasaan yang buat sebagian teman saya gak penting, sehingga mereka selalu mencari-cari alasan untuk gak kerja atau bantu, atau jadi alasan mereka untuk hanya membantu sekadar pelepas kewajiban..

Tapi ya, pendapat dan ketertarikan setiap orang kan berbeda, mungkin mereka nyaman begitu, sedangkan saya nyaman begini..
Mana tahan saya klo harus diam sementara disana sini orang-orang sedang sibuk ((:

Bakat ‘sampingan’ jadi organizer alias orang sok ngatur ini juga berlaku untuk urusan jalan2 dan party ini itu, saya paling suka merencanakan perjalanan atau acara, lalu ngumpulin sekian orang dan menikmati waktu bersama, ketawa dan mengabadikan kepuasan dan senyuman semua orang dibalik jepretan kamera saya. What’s more meaningful than seeing people smile because of you? It’s priceless (:
Yang saya dapat apa? Gak ada, cuma fun, karena bisa kumpul2 dan jalan2, itu saja, hanya kesenangan melihat sekian orang terhubung sedikit banyak karena saya yang suka heboh nyeret kanan kiri (:

Walaupun sekian rencana juga missed karena alasan ini itu, tapi saya belajar banyak, banyak sekali (:
Belajar bahwa mengatur orang dengan beragam sifat bukan hal yang mudah, karakter setiap orang itu berbeda, dan butuh perlakuan yang berbeda satu sama lain (:

Tidak jarang saya ‘makan ati’ karena salah satu teman yang merusak mood acara/trip yang sudah kita bangun..
Dan itu, menyebalkan (:

Mulai dari yang terlambat dan tidak patuh dengan disiplin, dari yang terlalu lelet sampai yang terlalu ngatur, itu semua jadi ngasih ilmu tersendiri ((:

Yang paling berkesan, saya pernah menyusun trip ke Venezia dengan beberapa teman, ketika itu saya stay di Trieste, terbayang mengorganize orang dengan beragam culture dan latar belakang negara, dan hasilnya, Bang! banyak konflik, sungguh..
Saya belajar bahwa ego saya masih tinggi dan ego ini harus saya tahan, sekaligus belajar bahwa ada kalanya saya memang harus bertahan dengan ego tinggi itu, harga diri!

Pernah juga bersama teman seperjalanan yang membuat saya nyaris mengamuk, ketika dia ngotot ingin melanggar sebuah peraturan kala kami berada di tengah gereja St Peter di Vatikan, membuat kami berdebat di keramaian, dan memalukan!

Pernah juga saya, ah, maksud saya, sering, saya mendapatkan surat ‘teguran’ dari anonim, yang mengata2i saya ketika saya mengorganize sebuah event, sementara sang anonim adalah orang yang bekerja sedikit saja tidak mau, tapi memilih melihat dari luar arena lalu menunjuk si ini dan si itu di arena saat sedikit kesalahan kami lakukan..

Tidak jarang saya jadi musuh bersama, karena kebagian tugas yang memang mengharuskan saya jadi musuh banyak orang, dan itu, sungguh berat, setelah mengorbankan waktu, tenaga, masih ditambah dibisiki celaan kiri kanan, benar-benar saya belajar menyiapkan hati yang kuat..

Ah, sudah banyaklah pahit manis yang saya rasakan selama berbaur dengan orang-orang ini, tapi saya kagum dengan diri saya sendiri, yang selalu saja tidak mau berhenti, dan kembali lagi menjadi si sibuk yang sok sibuk ((: *boleh lah ya sekali2 saya kagum sama diri sendiri, hehehe…

Sapporo, 24 Mei 2014
Deasy, yang kaget karena tetep aja di agenda 2014 ini statusnya tetap ‘kebanyakan acara’ padahal udah nyoba ngurangin, trus masih ribet aja diskusi online utk persiapan jadi mahasiswi ‘sok sibuk’ di AOGS meeting, tapi tetep, saya sukaaaaa, dan tetap tugas utama jadi anak sekolahan yang tiap hari sibuk jikken, plus mulai nulis, plus nyiapin 3 gakkai tahun ini, lalu mau pulang dengan sekian rencana untuk disana, hadeuh, saya kagum sama diri sendiri, this ordinary Deasy Arisa (: *hahahaha

blog, days, family, friends, future

Fill your heart ^^ – Dsy

when you meet people who know when you fake your smile, take them to your heart..
when you meet people who know when you meant your laugh, take them to your heart..
when you meet people whom you are able to show your tears, take them to your heart..
when you meet people whom you could freely be yourself with, take them to your heart..
when you meet this kind of person, never let them go (:

blog, days, family, heart

Marah, wajarkah? – Dsy

Saya penasaran, apa ada yang mengalami seperti saya, ngambek dan marah saat berhadapan dengan musibah?
Apa cuma saya yang merasakan hal ini?

7 tahun yang lalu ketika orangtua saya meninggal, saya seperti orang yang marah pada takdir, atau mungkin pada Allah..
Saya merasa apa yang saya sayangi direnggut tanpa memberi peringatan apa-apa, dan saya belum siap. Yah, siapa sih yang siap menghadapi kematian?

7 tahun yang lalu, saya merasa marah, ngambek, sekian lama saya berhenti memandangi foto beliau, saya bahkan tak sudi melihat handphone saya, lalu menghapus semua history beliau di hape saya, menghindari semua topik pembicaraan yang akan melibatkan beliau, tidak mau sama sekali berkunjung ke makam beliau (dan ini lama sekali, setidaknya 3 tahun, saya tidak bernyali melirik makam beliau yang hanya berjarak sepuluh langkah dari rumah kami, konyol sekali rasanya, karena saya merasakan emosi yang tak biasa membayangkan beliau yang kemaren masih mengobrol bersama saya, kini terbujur kaku di dalam sana, tanpa saya ada kesempatan lagi, bahkan untuk melihatnya), dan yang paling parah, saya ngambek tidak mau mendoakan beliau, beberapa saat, konyol sekali..

Doa khusus yang biasanya saya hafal diluar kepala utk orang yang sudah meninggal, doa yang sudah saya tahu sejak lama, tapi ketika harus mengucap doa itu untuk keluarga sendiri, doa itu seperti tidak rela saya bisikkan setiap selesai shalat, tidak lain karena perih kehilangan itu masih terasa, dan saya masih ingin menganggap beliau masih ada, saya masih tidak rela melepas beliau dan menerima kenyataan bahwa beliau sudah tiada..

Kebodohan yang aneh, kog sampai ngambek sama Allah, mau protes juga percuma..

Sekian waktu kemudian, saya belajar berdamai dengan kenyataan, mengunjungi makam beliau, membahas beliau lagi dalam beberapa pembicaraan, perlahan saya mulai rutin lagi mengirimkan doa untuk beliau, mudah-mudahan Allah mengampuni kekhilafan saya dan menyampaikan doa itu pada beliau di alam sana, saya merasa jadi anak yang tidak berbakti ketika ego saya menghalangi doa saya untuk beliau..

Belajar dari pengalaman pahit itu, seharusnya tidak ada lagi cerita saya ngambek berdoa, harusnya. Tapi nyatanya saya kembali di fase itu, marah, dan ingin protes.
Sekarang lidah saya kembali kelu untuk mengucap doa itu, ketika orangtua saya yang lain dijemputNya. Hampir sebulan, dan sepertinya saya masih diliputi emosi yang tak wajar. Masih merasa tidak ikhlas, karena kehilangan ini terlalu mengejutkan buat saya.

Bagaimana sosok yang biasanya tiap hari menelpon saya, suatu sore tiba-tiba terbujur kaku di kampung sana.
Bagaimana suara yang sampai kemaren sorenya masih saya dengar, ketika mengungkapkan rindunya dan menangis menanti saya pulang, sekarang suara itu sudah tidak ada.
Bagaimana mungkin wajah itu tidak akan pernah saya lihat lagi. Sosok yang menghambur memeluk saya dengan tangis, seperti lebaran lalu saat saya akhirnya pulang setelah 2 tahun mengembara..

Bagaimana beratnya bagi saya sekarang, bahkan untuk membuka sekotak benang dan jarum sulam, yang sudah saya kumpulkan dan saya janjikan akan saya bawa pulang, kesamaan hobi yang biasanya jadi salah satu hal yang membuat kami berdua betah berhari-hari duduk di teras rumah, menyulam bersama, dan saling berbagi kreatifitas dan ide baru..
Bagaimana sekian rencana saya bersama beliau saat saya pulang nanti, rencana yang sudah saya rancang, sekarang tinggal rencana, yang bahkan membayangkannya pun membuat saya benci, dan marah.

Tidak, saya tidak sedih lagi, mungkin saya sudah tidak sedih lagi, tidak menangis, tidak lagi membasahi bantal saya dengan airmata, sekarang saya hanya merasa, ada kemarahan, di dalam hati saya.
Kemarahan yang mengelukan lidah saya untuk kembali berdoa, dan hanya mengantarkan saya menjauh dari kepahitan.
Saya mau protes, mau ngambek, tapi sama siapa?
Masa iya marah sama Allah?

Apa cuma saya yang mengalami ini?

Sapporo, 21 January

Deasy
Dalam lamunan, dibalik jendela, melihat salju yang turun deras..