blog, days, future

Saya dipelototin ibu-ibu :D – Dsy

Judulnya emang lucu,

tapi itu yang saya alami kira-kira sebulan yang lalu, ketika berkunjung ke salah satu keluarga saat lebaran..

Kira-kira kenapa saya dipelototi? Tak lain karena sang Ibu menganggap saya mengajari sesuatu yang menyesatkan buat anaknya 😀

Cerita bermula ketika si Ibu bertanya pada saya di hadapan anaknya, tentu niatnya untuk berbagi motivasi, bagaimana caranya agar bisa sukses (sementara saya sendiri masih belum merasa sampai di posisi itu, hmm, mungkin krn saya sedang kuliah di luar negeri).

Ya saya jawab semampu saya, saya hanya bercerita sesuai apa yang saya alami, dan berbagi apa yang kira-kira saya kurang senangi dalam proses saya belajar, berharap hal ini tidak dialami oleh anaknya si Ibu ini..

Saya katakan begini, sederhana saja, kalau mau sukses di suatu bidang, yang pertama tentu bidang itu harus kita sukai, lalu harus fokus mempelajarinya, mendalami sehingga akhirnya bisa menguasai bidang itu.

Sederhananya lagi, saya katakan, kita tidak harus ahli di semua bidang. Buat apa di kepala kita yang hanya seukuran segini kita memaksa memasukkan semua hal, Ilmu eksakta, Ilmu sosial, Ilmu bahasa, ini, itu, sampai mungkin kepalanya sumpek dan penuh 😀

Contohnya saya waktu sekolah, saya suka hanya pada beberapa mata pelajaran, pada dasarnya saya suka matematika,  fisika dan kimia, karena 3 bidang ini seperti saling terkait, memahami yang satu maka otomatis yang lain akan mudah dikuasai. Dan dengan senang hati saya mengeliminasi banyak mata pelalajaran lain termasuk biologi (yang sebenarnya juga wajib dikuasai siswa IPA). Tapi apa daya, hafalan jangka panjang saya yang lemah, kekurangan minat, dan saya tidak mau menyiksa kepala saya dengan beragam konsep biologi, spt juga ilmu-ilmu lain, yang saya yakin tidak akan saya perdalam, dan rasanya tidak begitu saya butuhkan, membuat saya dengan senang hati menjaga jarak dari pelajaran-pelajaran ini, hehehe.

Apalagi mata pelajaran IPS, sebut saja Akuntansi, yang sukses membuat saya menangis darah karena kepala saya tidak bisa mencerna bahkan konsep debit dan kredit pun saya tak pernah pahami :D. Belum lagi sejarah, dan ilmu sosial lain. Jangan tanya bahasa Indonesia, itu kelemahan utama saya, karena saya memang lemah di bahasa, kecuali bahasa Inggris yang memang saya (paksa) sukai demi kecemerlangan di masa depan 😀 😀 😀 Menyadari kelemahan itu, saya sadar, buat apa saya memaksa diri? Saya tidak mau pergi ke sekolah dengan stress membayangkan akan belajar akuntansi, haha, dan setiap hari saya menghipnotis diri sendiri, “tenang dsy, akuntansi ini tinggal 2 bulan lagi, setelah itu lupakan, lupakan” 😀 😀

Nah, kembali ke si Ibu tadi, beliau heran dengan jawaban saya, katanya, “Masa iya dsy bilang gitu sama anak kecil, ntar mereka milih-milih lagi, kan nilai rapornya bisa rendah nanti kalau yang bagusnya cuma satu dua”.

Ya karena saya bukan seorang guru, tapi hanya mantan murid, saya memberi logika sederhana saja, “Bu, masa ibu tega maksa anaknya menguasai semua bidang, sementara tempat dia belajar saja, gurunya hanya ahli di satu bidang. Kenapa sih kita egois memaksakan anak kita untuk memahami semua hal secara berbarengan, lalu menuntut dia menjadi juara dengan standar semua mata pelajaran harus sempurna? Itu namanya membunuh bakatnya pelan-pelan, apalagi keterpaksaan itu membuat bakat dia yang sebenarnya jadi tidak terasah. Lagian orang bisa stress pastinya kalau dipaksa terus-terusan.”

Saya memberi logika sederhana lain, jika si anak dipaksa menguasai, misal 10 mata pelajaran dan harus membagi 10 jam harinya untuk belajar itu semua, lalu masing-masing hanya dikuasai maksimal 50 persen, tidakkah terbayangkan jika dia hanya diminta memahami 1-2 pelajaran, waktu 10 jam akan sangat maksimal. Bisa saja, hanya butuh 5-6 jam untuk si anak menguasainya. Sisanya, si anak bisa menenangkan kepala, dan gak akan stress karena kebanyakan beban. Andai seperti itu, mungkin nanti, di usia 20 tahun kita sudah mendapati seorang anak yang ahli di satu bidang, sangat mungkin 🙂

Diam-diam si Ibu melotot lagi, sambil memberi saya kode, “ssst, jangan ngomong gitu, nanti adeknya milih-milih belajarnya”

Ya Tuhan, apa sih yang kita takutkan dari anak yang memilih? Bukankah itu artinya dia tahu dimana minat dan potensinya?

Buat apa memaksakan anak yang minat akuntansi harus juga ahli di kimia, sementara dia tidak berminat? Demi nilai 10 di rapor? Lalu kalau nilainya 10 mau apa? Emang kalau anaknya stress bisa diobati pakai angka 10? Kalau tidur malam bisa nyenyak kalau rapor yang isinya nilai 10 itu dijadiin bantal? *aduh logikanya gak nyambung euy 😀

Hmmm, andai saya dulu bisa memilih, mungkin sejak jaman sekolah menengah, saya sudah duduk hanya di sedikit mata pelajaran saja. Karena yang lainnya saya jalani hanya karena terpaksa, hehehe, kalaupun rapornya memuaskan, saya yakinkan itu cuma demi nilai, setelah ujian, jangan harap ada ilmu-ilmu itu yang tersisa di kepala saya 😀 😀 Dan bukankah yang namanya pendidikan itu bukan apa yang tertera di rapor, tapi yang membekas di kepala. Nyatanya skrg sia-sia kan, memaksa saya dulu nangis-nangis mempelajari akuntansi? :d :d

Alhamdulillahnya, walaupun tidak sesegera yang diharapkan, akhirnya saya bisa memilih, dan tau maunya saya, dan karena saya menjalani pilihan saya, maka saya menjalaninya dengan senang hati, dan segala konsekuensi dan resikonya tentu saya akan tanggung sendiri. Saya tidak akan menyalahkan orang lain, semisal nanti saya gagal. Lain cerita kalau dulu saya dipaksa, tentu kegagalan akan saya tumpahkan sesalnya pada yang memaksa saya.

Enaknya lagi, menjalani sesuatu sesuai minat, saya menjalani dengan senang hati. Walaupun pusing (namanya belajar, sesuka apapun akan tetap berat), tapi saya senang. Lelah sepulang kuliah tapi hati tetap senang. Harus pergi sana-sini dan menghadapi cobaan juga saya anggap hiburan, sekali lagi, karena saya menjalani apa yang saya suka.

Pada akhirnya saya berpendapat, hidup yang paling menyenangkan adalah menjalani hidup sesuai minat dan potensi kita, mengikuti kata hati, dan belajar apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup ‘ala kita sendiri’.

Jadi, buat para orangtua, kenapa sih harus khawatir anaknya nilainya biasa saja, siapa tahu anaknya punya minat di bidang lain. Maka tugas kita bukan mendesak dia mempelajari semua hal, tapi membimbingnya agar menemukan passionnya, lalu memberi jalan untuk passion itu, sisanya, saya harap yang kita temui adalah anak-anak yang berbahagia mengejar mimpinya 🙂

Sekali lagi, saya udah pasrah dipelototin ibu-ibu karena setiap mereka ngajak ngobrol tentang sekolah, jawaban saya akan selalu sama, hahaha. Maklum, saya hanya seorang mantan siswa, bukan seorang guru di sekolah, jadi mungkin cerita ini dianggap bukan motivasi yang positif untuk anak-anak sekolahan 😀 Tapi mudah-mudahan, dengan memilih sesuai hati, menjalani hidup akan terasa lebih ikhlas

Tertanda,

Deasy, yang akhir-akhir ini serasa diberi jalan untuk menjalani passion saya, dan sedang menyiapkan hati untuk dipelototin emak, karena saya mungkin akan memilih ‘sesuatu yang tidak mereka bayangkan dan harapkan untuk saya pilih’, hadeuh, hahaha, udah ah, mari mengolah data gempa, ini hanya selingan 😀 😀

blog, days, future

Apa cuma saya? – Dsy

Saya pikir cuma saya ––

Kadang ketika bercerita dan mendengar cerita orang lain, dan tiba-tiba mengungkapkan apa yang kita rasakan dan mendengarkan versi orang tersebut, kemudian terpikir, “ah, ternyata bukan cuma saya”

Itulah yang saya rasakan kemaren sore, ketika mengobrol dengan seorang teman, yang mendadak membuat saya lega, sekaligus berpikir, ah, saya pikir cuma saya, ah ternyata bukan cuma saya, ah, bla bla bla…

Berawal dari kepanikan saya yang meningkat akhir-akhir ini, karena mendadak jadwal saya ‘mempertanggungjawabkan’ hasil riset saya semester ini dimajukan beberapa minggu lebih awal.
Semester ini baru dimulai dua hari yang lalu yaitu 1 April, normalnya saya baru akan ‘disidang’ sekitar minggu pertama atau kedua Juli. Mengejutkan karena nama saya tercantum di deretan awal, yaitu minggu terakhir Mei.
Kaget, membayangkan, akhir Mei berarti 7 minggu lagi.
Apa yang bisa saya hasilkan dalam 7 minggu? Saya belum punya hasil apa-apa, sementara hasil sebelumnya sudah saya laporkan selengkap-lengkapnya 2 bulan yang lalu. Dan baru saja hasil itu saya submit, sehingga sekarang saya ketiadaan bahan. Terbayangkan, bagaimana saya nanti, apa yang harus saya laporkan, arghhh..
Panik, tentu saja.
Saya berasa mau gila, karena sejak dua bulan yang lalu saya mentok dan tidak menghasilkan apa-apa. Sudah dua bulan ini mencari ide sana sini, membaca entah berapa kali tulisan rujukan saya, sampai kertasnya lusuh dan penuh dengan coretan saya, tapi tetap tidak ada solusi, dan saya terlalu malu untuk mengakui bahwa dua bulan ini saya gagal, memalukan!

Saya pikir saya ini seorang psiko, orang gila, atau apa lah namanya, karena saya tiba-tiba memikirkan kemungkinan paling sadis, saya merasa tiba-tiba ingin bunuh diri -____-
Iya, konyol kan, saya merasa ingin mati saja, seperti mati bisa membuat saya mengakhiri tekanan berat ini..
Di kala lain, setelah melaporkan hasil penelitian, setelah zemi, pernah terpikir betapa memalukannya saya, padahal kalau saya sedikit lebih keras, pasti hasilnya akan lebih baik..
Andai saya bekerja lebih keras, mengurangi kemalasan, bla bla bla, berasa ingin bunuh diri sajaaaa….

Dan itu tidak sekali, pernah sekali dua tiga empat kali saya memikirkan itu, apa saya loncat aja dari gedung ini? Argh, benar, kuliah S2 dan S3 itu berat, berat sekali (:

Tapi kemudian saya berpikir ulang, semua pasti berlalu, stress itu pada ujungnya akan menemukan jalan, dan sudah sering saya mengalami itu (:

Pernah saya menangis berhari-hari saking paniknya, berharap saya mati saja, atau setidaknya berpikir, saya pulang saja ke Indonesia, mengakhiri dengan cara saya, biarlah saya pulang dalam keadaan kalah, saya tidak kuat!!!
Tapi, akhirnya tetap saja, saya melakukannya, dengan baik..

Ketika menerima ijazah S2 september lalu, saya berulang kali terkaget-kaget, dengan bagaimana seringnya saya berpikir untuk berhenti saja karen tidak sanggup, tapi nyatanya, semuanya terlewati juga (:

Jadi, seberat apapun hari ini, saya yakin akan bisa saya lewati, saya 2.5 tahun lagi, dengan memegang ijazah PhD saya, akan terkaget lagi, sambil tersenyum dan bersyukur, bahwa saya gak jadi loncat dari gedung ini, pada sebuah kepanikan di masa lalu ((:

Sapporo, 3 April 2014

Deasy,
yang sedang panik untuk gakkai akhir April, Agustus, dan paper, dan revisi, dan data, dan…
Argh…

*saat membaca ini lagi 1 Oktober 2016 nanti, berharap saya tersenyum bangga pada diri sendiri karena berhasil mengalahkan semua halangan itu (:

family, future, heart

Please, hang on… – Dsy

I have been staying here 2.5 years and I still need other 2.5 years to complete everything here..

But now, all I want is fighting as strong as I can and running fast there..

I’m so sorry if I go this far, I’m sorry if I decided to be on this way, I’m deeply sorry..

As for now, all I can say is, please hang on a little longer, I promise, I promise I will come soon, I promise I will fight harder and I will do every possible way to make it all done as soon as I can.
For now, please hang on, for me, for us..

*bunches of Love for whoever Love me, there (:

Sapporo, March 21, 2014

Deasy
*damn why I can’t stop thinking about ‘there’?

blog, days, future

Jalur Inspirasi – Dsy

Keluar pintu lab, turun tangga ke lantai satu, keluar gedung 8 lalu belok kanan..
Jalan ke arah chuo shokudo, lalu belok kiri dan jalan lurus kearah Hokudai byouin..
Sampai di pertigaan belakang byouin, depan engineer, belok kanan..
Sebelum sampai main gate, ada jalan kecil dikiri jalan potong (menuju parkiran)..
Sebelum bangunan rumah sakit lalu belok kanan sampai penyeberangan Kita 13 Nishi 4 dan 5, depan Seico Mart..
Di Seico Mart nyebrang lagi ke trus belok kanan, dan sampai lah di apato..

Itu rute tiap hari saya di musim dingin, karena gak sepedaan pulang pergi lab, jadi ambil jalur terpendek..
Kurang lebih 10 menit berjalan normal..

Jalur ini saya sebut ‘Jalur Inspirasi’, khusus di musim dingin..

Semakin banyak inspirasi yang ingin dicari, akan makin lama durasi jalannya (:

Setiap hari, jika jikken saya berjalan lancar, jalur ini akan terasa pendek dan saya lewati dengan senyum-senyum sambil membayangkan dirumah disambut selimut hangat..

Namun jika jikken saya ngadat, maka jalur ini akan jadi jalur panjang, bahkan bisa setengah jam lebih saya berjalan menyusuri jalan ini, sambil berpikir, “itu tadi kerjaan saya salahnya apa ya”, atau “aduh, ini tadi kog gak beres, padahal udah dilakukan ini itu”, dan lain-lain..

Dan sering disepanjang perjalananan pulang inilah saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu..
Berjalan sambil melamun memikirkan kog tadi jikken saya gagal ya, lalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan solusinya, lalu terbayang buku mana lagi yang harus saya lahap biar ide saya bisa dieksekusi ((:
Di sepanjang jalur ini juga kadang saya berharap jalur ini sedikit lebih panjang, dan saya tidak buru-buru sampai dirumah, karena saya sudah pusing memikirkan solusi, sudah mencari jawaban dan kepala saya sudah panas, tapi sudah diujung masih belum menemukan jawabannya, disini saya berharap apato saya sejenak dipindah ke Kita 24 sana biar saya bisa mikir lebih lama ((:

Di jalur inspirasi ini, saya menemukan banyak jawaban, yang kadang membuat saya ingin buru-buru sampai dirumah, buka laptop dan melanjutkan pekerjaan, kadang tanpa peduli bahwa dari siang saya belum istirahat, kadang lupa bahwa tadinya saya berniat pulang dan menyiapkan sup hangat untuk makan malam..
Di jalur ini juga saya kadang masih tidak menemukan apa-apa, tapi saya suka berpikir dan memikirkan banyak hal disini ((:

Di jalur inspirasi ini, saya memikirkan banyak hal..
Di jalur inspirasi ini, saya mengingat banyak hal..

Jalur ini, yang masih akan saya tempuh kira-kira 2.5 tahun lagi, tepat setengah dari total masa tinggal saya..
Jalur ini, mudah-mudahan tetap memberi saya inspirasi, memberi saya cukup waktu untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berserabutan di kepala saya..


Jadi ingat klo waktu S1 dulu saya juga paling suka mencari inspirasi sepanjang jalan ((:
Dalam keadaan normal saya akan jalan dari jurusan atau labdas, lalu langsung ke halte bus MIPA lalu naik bus kampus dan pulang..
Rute ini akan berubah tergantung sedikit banyaknya yang dipikirkan..
Klo masih lumayan, biasanya dari LabDas saya jalan ke halte bus di gedung D..
Tapi biasanya klo lagi banyak yg dipikirin, saya ambil jalur panjang, dari labdas saya jalan ke gedung B, lalu lanjut jalan ke arah pustaka pusat, lalu gedung A, lewat audit lalu turun ke PKM, disini baru saya naik bus kampus..
Opsi jalur lain, dari jurusan saya akan lewat ke jalan antara Lab2 MIPA dan Peternakan, jalan ke arah peternakan (yang katanya angker, tapi klo lagi ngelamun saya jalan sendiri juga gak ngeh sama kiri kanan, hehehe), lalu keluar ke jalan raya dan nyambung jalan ke arah PKM..
Belum pernah sih saking paniknya saya sampai lanjut jalan dari PKM ke Ps Baru ((:
Keadaan terparah sih ya saya jalan sampai PKM itu, atau gerbang kampus deh, kadang sambil mikir, ngelamun, nangis, hehehe, seperti juga sekarang, disini (:

Klo keadaan paling panik, atau stress, hmm, saya suka ‘kabur’ naik bus ke pasar raya, trus lanjut ke pantai, ngelamun sambil liat ombak, setelah sunset berlalu baru pulang ke kosan (ini sih bukan mikir versi mikirin jikken, tapi klo lagi super gundah, hehehehe, beda kasus)

Sapporo, 12 Maret 2014

Deasy, yang baru sampai di apato sambil senyam senyum karena tadi dijalan tiba-tiba kepikiran sesuatu ide, yang sudah bikin mentok selama 63 hari ((:
*dan sedikit ngelantur nostalgia masa2 di Padang, hehehehe…

blog, days, future, heart

Aku, Kamu, Kita – Dsy

entah butuh berapa lamunan sore atau airmata ditengah guyuran hujan,
hingga akhirnya aku baru menyadari,
bagaimana rasanya, melepaskan dan ditinggalkan
bagaimana rasanya, berusaha melepaskan dan tertegun dalam tangis yang tertahan

aku baru menyadari terlalu banyak kepura-puraan,
ketika aku berpura-pura tersenyum saat kau perlahan pergi
ketika aku berpura-pura bahagia saat ternyata akhirnya kita tidak pernah bisa bersama
ketika aku berpura-pura tertawa, menyadari bahwa kata ‘kita’ dalam anganku tidak pernah berwujud nyata

ternyata sama sekali tidak mudah,
bertahan dengan ketegaran yang hanya aku paksakan
ketika sebenarnya aku masih ingin mencintaimu
bahwa sebenarnya aku masih rindu dicintai olehmu
bahwa sebenarnya aku belum rela melepaskan semua tentang kita

ternyata seperti ini rasanya,
berpisah tanpa benar-benar pernah bersama
merasakan sepi tanpa benar-benar pernah menikmati kebersamaan
mengikhlaskan kata ‘kita’ yang bahkan belum pernah benar-benar terwujud nyata

bagaimana rasanya, sesulit inikah, pada akhirnya,
ketika harus mengikhlaskan hal-hal yang bahkan belum pernah kita miliki
ketika menahan segala sesak, menyadari bahwa engkau tersenyum oleh seseorang yang bukan aku
ketika menahan segala gemuruh rindu disela semua ingatanku tentangmu, dan tentang kita

beginilah akhirnya,
kamu bertahan menjadi seseorang yang pernah paling aku inginkan
dan kamu bertahan menjadi seseorang yang berjalan menjauhiku
dan kamu bertahan menjadi mimpi yang tak pernah menjadi nyata

dan kamu, kini tersenyum, dengan dia yang bukan aku..

beginilah rasanya,
belajar melepaskan..
belajar merelakan..
berlajar mengikhlaskan..
pelajaran yang menyeretku ke seluruh sisi dunia, hanya untuk benar-benar bisa melakukannya..
hanya agar lukaku tak seperih ini..

Sapporo, 9 Maret 2014

Deasy, yang sedang ‘kaget’ ((:

blog, days, family, friends, future

Fill your heart ^^ – Dsy

when you meet people who know when you fake your smile, take them to your heart..
when you meet people who know when you meant your laugh, take them to your heart..
when you meet people whom you are able to show your tears, take them to your heart..
when you meet people whom you could freely be yourself with, take them to your heart..
when you meet this kind of person, never let them go (: