blog

Harapan Yang Menghanyutkan – Dsy

Harapan itu memang menghanyutkan 🙂

Itu yang bisa saya tuliskan ketika bicara tentang “kesempatan ke Luar Negeri”, entah untuk jalan-jalan, mengunjungi keluarga, maupun study banding dan kuliah.

Ya, segala sesuatu berjudul luar negeri memang terlihat luar biasa, dan membuat (hampir) semua orang mengorbankan banyak hal untuk mengejarnya..

Kalau anak kuliahan yang berdompet lumayan, tabungan ada, lumayan lah, setidaknya pernah sekali berfoto di depan singa putih di singapura sana..

Kalau gak ada tabungan, ya ngemis ke orang tua, lagi-lagi, sekadar bangga berfoto di depan menara kembar di negara tetangga

Kalaupun untuk tujuan study, akan mati-matian masukin proposal sana-sini demi keringanan biaya perjalanan, lalu setidaknya, sebuah postingan di facebook bertajuk, xxx travelling from Soekarno Hatta Airport to Antah Berantah Airport

Yah, semua punya nafsu, bahkan konon, ada oknum pejabat dan anggota dewan, yang memanfaatkan celah perjalanan dinas untuk jalan-jalan, dari sekadar memanfaatkan waktu senggang diantara kegiatan, hingga yang benar-benar cuma mengatasnamakan dinas tapi ujung-ujungnya entah kemana 😀

Namanya juga luar negeri, kiblat semua orang atas nama, keinginan, hasrat, mimpi, atau apalah..

Sebagian mengejar dengan cara yang wajar, sebagian hampir seperti orang kehilangan akal..

Jadi ingat saya beberapa tahun yang lalu pernah menulis postingan sejenis, kala itu saya lulus seleksi untuk summer program di sebuah universitas di eropa. Alamak, anak kampung mana pula yang gak ngiler diiming-imingi kesempatan belajar dengan profesor kelas dunia di benua yang selama ini cuma saya lihat lewat televisi..

Bisa ditebak kemudian, saya grasak grusuk sana sini nyari bantuak dana, masukin proposal, bla bla bla..

Setahun kemudian terulang, lagi-lagi saya mendapat kesempatan yang sama..

Dan tentu saja, berada disana memang luar biasa. Hal yang biasa bagi orang lokal, bisa jadi mukjizat di mata kita, hahaha..

Dan begitulah saya, takjub, terpana, dan lupa bahwa menuju kesana sempat banjir air mata dan keringat..

Dan ketika saya disini pun, saya melihat fenomena yang sama.

Menyaksikan sekian mahasiswa Indonesia, berlomba, berpacu keringat, berjuang mati-matian untuk bisa, walaupun cuma sehari, menginjakkan kakinya di luar negeri..

Saya seperti berkaca, seperti melihat saya yang dulu..

Tapi lagi-lagi, dibalik mimpi itu, kenapa jarang yang menyelipkan logika? Sedikit saja..

Ada yang demi itu, sekian tahun kemudian masih menabung untuk melunasi pinjaman (hahaha, itu sih saya, minjam sama orang tua, padahal programnya sendiri sudah dibayarin sama tiket-tiketnya, nafsu belanja mengalahkan dompet, hahaha)

Ada yang demi mimpi ini, kehilangan akal sehat, mimpinya cuma satu, saya harus ke sana, saya harus berangkat apapun yang terjadi..

Ah, pikiran jernih, akal sehat, tercecer entah dimana..

Itu yang membuat saya miris..

Saya ingat 1 tahun yang lalu, di tengah badai salju di bulan Februari, saya ingat hari itu saya berjalan pulang dalam keadaan putih terbungkus es, dan satu-satunya yang saya inginkan adalah segelas coklat hangat, masuk selimut, nyalakan pemanas ruangan, dan tidur panjang hingga pagi..

Sebelum kemudian, pukul 10 malam, saya dikagetkan dengan telepon seorang teman, mengabarkan kalau mereka butuh bantuan saya.

Mereka butuh tumpangan dirumah saya (alias apato kecil berukuran 20m2), untuk beberapa mahasiswa Indonesia yang ternyata, sudah sampai di bandara Chitose, tapi tidak tahu harus menginap dimana, nah lho..

Antara rela gak rela awalnya, cuma membayangkan mereka terbang belasan jam dari kenyamanan Indonesia dan suhu panas khatulistiwa, 28o C setidaknya, menuju kutub utara bersuhu -20o kala itu, tidak tega menolak mereka..

Sesampai mereka dirumah, saya tentu penasaran, apa yang ada di benak mereka, ada apa, kenapa, banyak pertanyaan..

Semua terjawab satu persatu..

Yang jelas itu, hasrat ingin keluar negeri, melihat salju, kebetulan ada ‘acara’ untuk alasan pendukung (entah pergi untuk acara sambil melihat salju, atau melihat salju sambil ikut acara, hehehe)

Dan kaget, melihat betapa mereka tidak logisnya kala itu..

Berbekal naluri backpacker (yang saya yakin backpacker juga gak gitu-gitu amat), mereka sebenarnya merencanakan menginap di bandara dulu hari pertama, baru pindah ke hotel (yang juga entah dimana), lalu sehari menjelang pulang kembali tidur di bandara..

Satu hal yang mereka lupa cek, suhu udara disini, apakah manusiawi untuk lesehan atau tiduran di bandara seperti di Kuala Lumpur, tentu tidak, suhunya, -20o!!!

Satu hal lagi yang mereka tidak cek, apakah bandaranya buka 24 jam atau tidak. Dan ya, ada banyak bandara yang tidak buka 24 jam, artinya setelah penerbangan terakhir, mereka akan tutup dan semua orang harus keluar..

Dang!!!

Bayangkan, ‘terusir’ di kota asing bersuhu ekstrim, tidak tahu harus tidur dimana, badan belum adaptasi dengan suhu, Voila! welcome to the hell, cold hell, extremely cold hell!!!

Yah, itu bukan kejadian pertama, dan bukan satu-satunya..

Hikmahnya?

Bermimpilah, kejarlah mimpi itu, namun jangan lupakan akal sehat..

Siapa yang tidak ingin belajar, jalan-jalan, dan melihat negara orang..

Namun pertanyaannya, sudah cukupkah persiapan kita untuk kesana?

Jangan sampai demi ambisi, lupa segalanya, lalu kena batunya sendiri..

Saya percaya semua ada waktunya..

Saya percaya, ketika ada rejeki untuk meraih sesuatu, tidak ada yang bisa menghalangi..

Sebelum itu semua, mari sama-sama berusaha, kejarlah mimpi, berusaha sekuat tenaga, teguhkan hati, dan tetap berpijak di bumi..

Sapporo, 1 May 2015

Deasy, yang lagi ngitung-ngitung duit buat bayar hutang 😀

Screenshot 2015-05-01 16.31.23

Advertisements
blog, days, heart

Aku Kembali – dsy

Mengharukan, bagaimana waktu berlalu begitu cepat, apalagi ketika melihat postingan terakhir blog ini, yaitu tahun lalu..

Ah, kemana komitmen untuk ngeblog setidaknya satu postingan sebulan, yang dirancang tahun lalu?

Melihat waktu sungguh sudah jauh berubah, apalagi keadaan saya, berubah jauh lebih dari yang saya bayangkan, well, walaupun ini perubahan yang sudah saya ‘rencanakan’ jauh-jauh hari..

Postingan saya tahun lalu lebih banyak tentang hati, kegalauan, menanti dan mengharap jodoh. Siapa sangka sekarang, setahun kemudian, saya disini menulis, sebagai istri dari seorang lelaki yang amat sangat saya cintai..

Yah, saya tiba-tiba saja sudah jadi istri..

DSC_0080 2

Dan kekagetan itu masih sering saya rasakan, kala terbangun pagi hari mendapati saya sedang dalam pelukan hangat seorang lelaki, atau ketika suatu sore mendapati saya menghambur ke pelukannya ketika saya lelah..

Ah, bagaimana waktu berlalu terlalu cepat, dan mengubah banyak hal..

Baiklah, sekarang mood menulisnya sudah kembali lagi..

Well, mood itu tidak benar-benar hilang sih, karena saya beberapa kali masih menulis, walaupun tidak dipublish disini. Tapi diakui, saya memang jauh lebih produktif di kala galau dan sedih, ketimbang saat bahagia, hahaha…

Baiklah, mari kembali menulis, berbagi, dan berbicara dengan kata

30 April 2015

dari Sapporo yang hangat, dan sakura yang sedang mekar..

blog, days, family, friends, heart

Hati-hati dengan doamu!!! – Dsy

Kata-kata itu yang sekarang sering aku bisikkan pada diri sendiri..
Karena doa itu dahsyat adanya, kekuatannya tidak ada yang bisa melawan, apabila Allah sudah berkata “iya” pada apa yang kita minta, luar biasa dahsyatnya..

Bukan sok tau, atau sok alim, tapi itulah yang aku alami (atau aku setidaknya aku pikir, pernah/sedang aku alami)

Berdoa, siapa yang tidak suka melakukannya, karena pada dasarnya kita adalah makhluk peminta, selalu merasa ingin ini, mau itu, susah sekali merasa puas dan cukup..

Berdoa yang baik tentu saja bagus, apalagi jika doa itu dijawab Allah, kurang bahagia apa lagi kita? Rasanya ingin berteriak hingga seluruh dunia tau, “Hey, doaku sudah dijawab Allah!!!”

Berdoa, adalah hobbyku, jika aku bisa bilang begitu..
Aku bisa disebut pengemis, perengek, suka meminta apa saja..
Salah satunya (ah, terlalu sederhana jika menyebutnya,”salah satunya”), hehehe..
Tapi ya, salah satunya, adalah orang yang saat ini duduk disebelahku, lelaki yang sekarang mendampingiku, memarahiku kalau aku lalai dalam tugas, memaksaku bangun lebih pagi..
Ya, dia adalah salah satu hal yang membuatku ingin berteriak ke seluruh dunia, “Hey, doaku sudah dijawab Allah!!!”

Ya, setelah sekian “tidak” yang dengan senyum indah Allah jawab padaku, setelah sekian kata “tunggu” yang Allah tulis di hidupku, akhirnya dia menitipkan sebuah “iya”, “Iya dsy, sekarang waktunya”

Dan voila!! disinilah aku sekarang, disamping lelaki yang hanya memberiku waktu 10 menit untuk mencoretkan tulisan ini, karena saat ini aku sedang dalam masa romusha, dipaksa menulis sekian ratus kata setiap hari,agar paperku yang keteteran bisa segera tuntas..
Ah, kepanjangan pembukaannya, bisa-bisa 10 menitku habis begitu saja..

Ya begitulah, lagi-lagi aku katakan, hati-hati dengandoamu!!!

Kenapa? Simpel! Karena kita tidak tahu kapan doa kita akan dijawab Allah, maka hati-hatilah mengucapkan keinginan, apalagi jika efeknya tidak bisa kita bayangkan..

Kenapa aku menulis begini? Kenapa malah harus hati-hati dengan doa?
Karena pada suatu pagi, beberapa masa yang lalu, aku berdiri mematung, untuk sebuah kejutan, kejutan yang membekukanku, yang membuat aku tertegun, “Ya Allah, masa ini jawaban doaku? Kenapa sedahsyat ini hempasannya? Aku hanya sedang kesal waktu berdoa begitu, aku hanya sedang terluka saat berdoa begitu, aku hanya, Ah Allah, tolong yakinkan kalau ini bukan jawaban doaku, aku takut”

Begitulah..
Begitulah efek ketika doa yang kita ucapkan bukan doa yang baik..

Maka Hati-hatilah dengan doamu..

Sampai sekarang aku tidak tahu, apakah ‘tsunami’ ini adalah memang jawaban doaku yang sedang terluka, teraniaya kala itu, ataukah memang sudah takdirnya. Yang jelas, mulai sekarang, aku akan berhati-hati membisikkan kata pada Allah, apalagi ketika aku sedang menangis dalam sujud, apalagi ketika aku sedang terluka, apalagi ketika tidak ada kata-kata lain yang bisa aku kirimkan pada Allah, selain, “Ya Allah, dsy gak sanggup, sakit banget rasanya, tolong, tolong Ya Allah”

Catatan untuk diri sendiri: Dsy, mulai sekarang, hati-hatilah berdoa..

Dan yang lebih penting, hati-hatilah dengan sikapmu..
Kenapa?
Karena..
Karena ketika sikap kita, bisa jadi, melukai hati seseorang,dan di kala itu, ketika dia sudah tidak sanggup lagi menerima sikap kita, maka,waspadalah, ketika dia memilih Allah untuk tempatnya mengadu..

Kita tidak pernah tau, ketika kita mengalami suatu kejadian yang kurang menyenangkan, apakah itu memang sudah jalannya, ataukah, ada jawaban doa seseorang yang terjawab disana, seseorang yang bersandar pada Allah, saat dia teraniaya oleh kita..

Jadi, selain berpikir tentang hati-hati dengan doamu, akupikir lebih jauh, ada kehati-hatian yang lebih ingin aku catat baik-baik, “Hati-hati dengan mulutmu, hati-hati dengan sikapmu”

Jangan sampai, jangan sampai ada doa orang yang dijawab Allah karena teraniaya oleh sikap atau kata-kata kita..

Sungguh tak terbayangkan..
Jangan sampai kita menjadi alasan orang lain terluka, lalu menangis dalam sujud, dan mengadu pada Allah..
Jangan sampai..

Maka..
“Hati-hati dengan mulutmu, Hati-hati dengan sikapmu”

Sapporo, 6 November 2014

Deasy,
yang mendadak kepikiran hal ‘sederhana’ ini, disela kesibukan menulis paper, dalam curi-curi waktu yang sangat minim, dalam pengawasan ketat suami karena cuma dikasih 10 menit untuk “curhat” disini..

blog

Jarak itu bukan kita yang ciptakan – Dsy

Lucu, sekaligus menggelikan, hehehe..

Kadang saya merasa pakai topeng, karena membicarakan beberapa hal dengan beberapa orang, di belakang orang lain, secara sembunyi-sembunyi.

Sederhananya, jika seseorang membicarakan kejelekan seseorang pada kita, padahal di depan orang itu dia masih amat sangat baik, tentu tidak menutup kemungkinan dia melakukan hal yang sama, membicarakan tentang kita pada orang lain walaupun di depan kita masih baik-baik saja.

Itu alasan saya akhir2 ini menjaga jarak, menjauh, menghindar.
Beberapa chat saya setting muted, sekian obrolan saya abaikan, tidak lain karena saya jenuh, capek, jengah, dengan kebanyakan topeng yang ada.

Jika ada yang berpikir itu karena lelaki itu, ah, sama sekali tidak, perasaan itu sudah muncul jauh sebelum dia ada. Kalaupun pada akhirnya dia terlihat jadi penyebab, lebih karena dia, dalam kepala saya, adalah orang yang saya tunggu-tunggu untuk menyelamatkan saya (a.k.a menjadi tumbal dan alasan, hihi)
Hanya saja, sekarang saya terbiasa menikmati sepi, gak melulu mengharapkan orang lain untuk meramaikan suasana hari saya.

Dan beberapa hari yang lalu, saya terkaget2 sendiri dengan bagaimana saya ‘dipermalukan’ dan ternyata saya memang dibicarakan di belakang saya.
Tapi karena sudah menduga, yang saya lakukan hanya senyam senyum, sambil mikir, “tuh kan bener, saya diomongin” 😀 😀 😀

Makanya kemaren saya memutuskan menjaga jarak saja. Jaga jarak aman.
Lebih aman saya menjauh. Lebih aman saya disini.

Sapporo, 16 Juni 2014

Deasy, yang rindu ketulusan *halah, bahasanya alay 😀

blog, days, future

Apa cuma saya? – Dsy

Saya pikir cuma saya ––

Kadang ketika bercerita dan mendengar cerita orang lain, dan tiba-tiba mengungkapkan apa yang kita rasakan dan mendengarkan versi orang tersebut, kemudian terpikir, “ah, ternyata bukan cuma saya”

Itulah yang saya rasakan kemaren sore, ketika mengobrol dengan seorang teman, yang mendadak membuat saya lega, sekaligus berpikir, ah, saya pikir cuma saya, ah ternyata bukan cuma saya, ah, bla bla bla…

Berawal dari kepanikan saya yang meningkat akhir-akhir ini, karena mendadak jadwal saya ‘mempertanggungjawabkan’ hasil riset saya semester ini dimajukan beberapa minggu lebih awal.
Semester ini baru dimulai dua hari yang lalu yaitu 1 April, normalnya saya baru akan ‘disidang’ sekitar minggu pertama atau kedua Juli. Mengejutkan karena nama saya tercantum di deretan awal, yaitu minggu terakhir Mei.
Kaget, membayangkan, akhir Mei berarti 7 minggu lagi.
Apa yang bisa saya hasilkan dalam 7 minggu? Saya belum punya hasil apa-apa, sementara hasil sebelumnya sudah saya laporkan selengkap-lengkapnya 2 bulan yang lalu. Dan baru saja hasil itu saya submit, sehingga sekarang saya ketiadaan bahan. Terbayangkan, bagaimana saya nanti, apa yang harus saya laporkan, arghhh..
Panik, tentu saja.
Saya berasa mau gila, karena sejak dua bulan yang lalu saya mentok dan tidak menghasilkan apa-apa. Sudah dua bulan ini mencari ide sana sini, membaca entah berapa kali tulisan rujukan saya, sampai kertasnya lusuh dan penuh dengan coretan saya, tapi tetap tidak ada solusi, dan saya terlalu malu untuk mengakui bahwa dua bulan ini saya gagal, memalukan!

Saya pikir saya ini seorang psiko, orang gila, atau apa lah namanya, karena saya tiba-tiba memikirkan kemungkinan paling sadis, saya merasa tiba-tiba ingin bunuh diri -____-
Iya, konyol kan, saya merasa ingin mati saja, seperti mati bisa membuat saya mengakhiri tekanan berat ini..
Di kala lain, setelah melaporkan hasil penelitian, setelah zemi, pernah terpikir betapa memalukannya saya, padahal kalau saya sedikit lebih keras, pasti hasilnya akan lebih baik..
Andai saya bekerja lebih keras, mengurangi kemalasan, bla bla bla, berasa ingin bunuh diri sajaaaa….

Dan itu tidak sekali, pernah sekali dua tiga empat kali saya memikirkan itu, apa saya loncat aja dari gedung ini? Argh, benar, kuliah S2 dan S3 itu berat, berat sekali (:

Tapi kemudian saya berpikir ulang, semua pasti berlalu, stress itu pada ujungnya akan menemukan jalan, dan sudah sering saya mengalami itu (:

Pernah saya menangis berhari-hari saking paniknya, berharap saya mati saja, atau setidaknya berpikir, saya pulang saja ke Indonesia, mengakhiri dengan cara saya, biarlah saya pulang dalam keadaan kalah, saya tidak kuat!!!
Tapi, akhirnya tetap saja, saya melakukannya, dengan baik..

Ketika menerima ijazah S2 september lalu, saya berulang kali terkaget-kaget, dengan bagaimana seringnya saya berpikir untuk berhenti saja karen tidak sanggup, tapi nyatanya, semuanya terlewati juga (:

Jadi, seberat apapun hari ini, saya yakin akan bisa saya lewati, saya 2.5 tahun lagi, dengan memegang ijazah PhD saya, akan terkaget lagi, sambil tersenyum dan bersyukur, bahwa saya gak jadi loncat dari gedung ini, pada sebuah kepanikan di masa lalu ((:

Sapporo, 3 April 2014

Deasy,
yang sedang panik untuk gakkai akhir April, Agustus, dan paper, dan revisi, dan data, dan…
Argh…

*saat membaca ini lagi 1 Oktober 2016 nanti, berharap saya tersenyum bangga pada diri sendiri karena berhasil mengalahkan semua halangan itu (:

blog, days, kutipan

Mencoba lebih baik (: – Dsy

~~~ Nasib Sang Ular ~~~

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan dan tanpa merapikannya…

ketika ular itu masuk ke gudang tersebut, secara kebetulan ia merayap di atas gergaji, dan tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka.

Ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali…
Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.
Marah dan putus asa, ular tersebut berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan gergaji yang dianggap musuhnya itu.
Ia pun lalu membelit kuat -kuat gergaji itu…
Belitan yang menyebabkan tubuhnya terluka amat parah…
Dan akhirnya ular itupun binasa…

——————–
Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain, setelah semua berlalu, kita baru menyadarinya, bahwa yang terlukai itu sebenarnya adalah diri kita sendiri…

Banyaknya perkataan yang terucap dan tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, sebanyak itu pula kita melukai diri sendiri…!!!
—————–

Kutipan dari ‘dongeng’ di wall facebook uni Mutya (:

—————–

Tidak perlulah saya mengungkit lagi sekian keteledoran saya di masa lalu ketika saya terlalu sering mengumbar marah dan emosi, ketika saya terlalu sering lupa menyaring apa yang seharusnya keluar dari mulut ini..
Tidak perlu saya ungkap seberapa banyak sesal yang akhirnya tersisa di hati saya, setelah menyadari besarnya luka yang terjadi akibat kurangnya saya bersabar..
Berat rasanya untuk menjemput kembali kenangan akan sekian banyak hal yang saya korbankan, sekian banyak orang yang saya buat pergi, sekian air mata yang jatuh, hanya karena ego saya..

Saya mungkin belum jauh berubah, saya masih deasy yang sama yang suka kesal, kurang sabar, emosi-an dan sering ‘busuak ati’, namun saya yang sekarang lebih mencoba menahan sendiri, mencoba sekuat tenaga agar mulut ini tidak mengeluarkan kata-kata yang pada akhirnya saya sesali, lebih sering menangis, menahan isak, dan memilih bersandar pada sang Penjaga Hati, saat kesabaran saya diuji..

Saya masih jauh dari kata baik, saya masihlah saya yang dulu, yang masih dangkal memahami makna hidup, yang masih belajar mengajari hati ini, tapi setiap saat, dengan niat baik, bismillah, saya selalu berusaha agar makin sedikit kesalahan yang akan saya sesali nantinya..
Karena sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diubah, suatu luka yang sudah tergores amat susah disembuhkan, apalagi jika itu menyangkut sesuatu sepeka dan sesensitif hati..

Saya takut saya tidak punya cukup waktu, nyali atau kesempatan untuk meminta maaf pada orang-orang yang telah bersinggungan dengan saya..
Saya takut ketiadaan waktu, nyali, kesempatan untuk meminta padaNya ampunan atas banyak kebodohan yang saya perbuat..
Saya takut, karena saya adalah orang yang terlalu susah mengatakan ‘maaf’, karena saya masih si angkuh yang egois itu..

Masih ingin rasanya saya belajar lebih banyak, masih jauh ilmu saya dari kata sempurna, masih banyak ilmu sabar dan ikhlas yang harus saya pelajari, Bismillah semoga Sang Maha Pelembut itu belum bosan menyentil orang sebandel saya (:

———–
Sapporo, 30 Maret 2014
menjelang jam 12 malam,

Deasy
*yang lagi-lagi, ‘tanpa sadar’ berceloteh panjang lebar begini (: